|
LIMOPULUAH KOTO, METRO-- Program bupati kabupaten Limopuluah Koto, terhadap “babaliak basurau”, banyak pihak menilai program tersebut sangat bagus dan sudah seharusnya, dipupuk dan dibina. Namun, di tengah sibuknya bupati mengaungkan program tersebut, ada saja yang membuat ulah, ternodanya program tersebut, karena honor guru Madrasah Diniah Awaliyah (MDA) sampai saat belum juga dibayarkan.
Akibatnya, sejumlah guru MDA yang ada di Kabupaten Limopuluah Koto,
banyak kecewa karena honornya dari Pemkab tahun 2008 ini belum juga
diterimanya kendatipun tahun anggaran telah hampir habis.
“Dari 300
anggota guru madrasah, masih banyak yang mengeluh karena honor yang
cairkan melalui pemerintahan nagari belum juga diterima. Kalau sudah
nyata honor dari Pemkab tidak ada, kami tidak masalah. Cuma sangat
disayangkan anggaran yang telah ada, tapi tidak juga dibayarkan,” jelas
Asma Ketua KKMd (Kelompok Kerja Madrasah), Kabupaten Limopuluah Koto,
kepada POSMETRO, Rabu (27/8) di Payokumbuah.
Guru madrasah siap
mengabdi mengembangkan syiarnya agama Islam, namun kalau ada honornya
tolong diberikan sesuai dengan jadwalnya. Padahal honor guru MDA itu
hanya Rp40.000/bulan sebagai imbalan kami, tapi turunnya kok
diuncek-uncekan pulo, katanya.
Di tempat terpisah, Kabag Kesra
Setdakab Bambang Abdul Ghani, kepada wartawan, mengatakan, dana honor
guru MDA sudah ada. Namun sampai saat ini baru sekitar 10 walinagari
yang minta rekomendasi ke Kesra untuk pengambilan uangnya. Intinya,
permintaan honor tergantung kepada kita masing-masing wali nagari.
Terjadinya
keterlambatan tersebut mungkin karena banyaknya walinagari yang baru
dilantaik. Jadi, kita minta seluruh walinagari agar mencairkan dana
honor guru MDA,TPA/TPSA secepat mungkin. “Pengambilan dananya tidak
sulit, hanya tinggal minta rekomendasi ke Kesra dan diteruskan ke BPKD.
Kemudian uangnya sudah dapat dicairkan. Yang terpenting, keseriusan
walinagari demi menyukseskan pendidikan agama, ”ujar Bambang. (nur)
|