Saat ini ada 1 tamu online
Kepercayaan Menjadi Modal Pembangunan pdf  | cetak |
Senin, 01 September 2008
Meraih kembali kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi pemerintahan, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Apalagi kondisi masyarakat yang kritis dengan kedewasaan berpikir yang lebih maju. Sementara banyak pihak menilai, tanpa adanya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan, mustahil program yang telah dilahirkan oleh pemerintahan itu berjalan maksimal.
Kondisi demikian sangat disadari duet pimpinan Kota Solok Syamsu Rahim dan Irzal Ilyas. Dengan pengalaman sebagai tenaga pengajar, birokrat serta dunia politik yang sempat digelutinya beberapa dekade, membuat sosok Syamsu Rahim tumbuh menjadi seorang pemimpin yang inovatif dengan membawa angin perobahan di Kota Solok.

Kepiawaiannya dengan segudang pengalaman, diakui atau tidak telah memberikan warna tersendiri terhadap kemajuan Kota Solok.Kendati nada skeptis mengalun sumbang serta sorotan tajam terhadap kemauan politiknya ketika memangkas birokrasi yang berbelit-belit dan dianggap sebagai kebijakan yang tidak populer, dengan keyakinan untuk membangun pondasi sistem pemerintahan yang kuat dan memihak kepada masyarakat, Syamsu Rahim terus melangkah dan berbuat.

Baginya, terserah dari sisi mana orang menilai. Yang penting, berbuat dan berkarya merupakan bagian dari dirinya yang sulit dilepaskan. Menginjak tiga tahun kepemimpinannya di Kota Solok, bagi Syamsu Rahim alangkah baiknya dijadikan sebagai waktu yang tepat untuk merenung terhadap apa yang telah diperbuat dan diraihnya selama kurun waktu tersebut. Tiga tahun kepemimpinanya, memang belum dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilannya dalam memimpin Kota Solok. Terlepas dari berhasil atau tidaknya Syamsu Rahim memimpin Kota Solok, paling tidak dengan kemauan politiknya yang ingin mewujudkan tata pemerintahan yang baik, perlu dicermati secara serius.

Tidaklah berlebihan jika dikatakan, meski berstatus kota kecil, namun daerah ini mampu membuat lompatan besar untuk mengantar nama Solok menjadi lebih diperhitungkan di pentas nasional. Dalam mewujudkan visi kota “Terciptanya tata pemerintahan daerah yang baik (good local governance), meningkatkan ekonomi rakyat, meningkatkan kualitas pendidikan, dan tersedianya infrastruktur kota yang memadai guna mewujudkan kesejahterahaan masyarakat,” berbagai upaya telah dilakukannya kearah itu.

Sebut saja pembinaan terhadap Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Saat ini, sektor UKM telah tumbuh sekitar 30 persen dari sebelumnya. Padahal ini baru dilaksanakan dalam kurun waktu tiga tahun. Dari data yang didapat POSMETRO, Tahun 2005 di Kota Solok tercatat sebanyak 2.804 UKM. Sekarang jumlahnya telah meningkat menjadi 3.648 unit. “Dengan perhatian serius terhadap UKM, maka Kota Solok akan menjadi alternatif lapangan kerja bagi pencari kerja ketika sektor pemerintahan tidak lagi mampu menyediakan lapangan kerja, jelas Syamsu Rahim.

Tak hanya pertumbuhan UKM saja yang melambungkan nama Kota Solok, namun yang menggembirakan, UKM juga tumbuh dari kelompok keluarga miskin. Jumlahnya sebanyak 36 UKM dari 30 keluarga miskin yang menjadi target.
Berkaitan dengan permodalan, disamping pembinaan yang dilakukan agar tumbuh menjadi UKM yang tangguh, Pemko Solok juga berupaya memfasilitasi para pelaku UKM itu untuk mendapatkan akses permodalan baik itu dari bantuan pemerintah, perbankan, serta lembaga lainnya. Dari data, 357 UKM telah mendapatkan akses permodalan dari 560 UKM yang ditargetkan.

Artinya, pencapaian target sudah mencapai 63,7 persen. Untuk menfasilitasi UKM, Pemko Solok juga memberika porsi yang besar kepada dunia koperasi. Selama rentang waktu tiga tahun belakangan ini, empat unit koperasi yang ada, sudah masuk katagori sehat. Yang menggembirakan, hingga akhir tahun 2007 tidak ada koperasi yang dibubarkan.

“Dalam hal yang satu ini, selain berhasil mengembangkan koperasi, Kota Solok juga meraih penghargaan sebagai Kota Penggerak Koperasi tahun 2008 dari Presiden RI,” terang Kabag Humas Pemko Solok Drs Muhammad, M.Si
Penghargaan tersebut merupakan bukti yang tidak terbantahkan atas peran pemerintahan dalam peningkatan infrastruktur kota, terutama yang berkaitan dengan aspek perekonomian masyarakat. Di tengah upaya Pemko Solok meningkatkan perekonomian masyarakatnya, sebagaimana yang dialami daerah lain, persoalan kemiskinan tetap saja menjadi persoalan serius. Apalagi di Kota Solok saat ini jumlah warga miskin mencapai angka 19,7 persen atau sekitar 2.534 KK.

Dalam hal ini, Syamsu Rahim berpendapat perlunya upaya secara lintas sektoral dan terpadu dengan melibatkan para pelaku pembangunan termasuk masyarakat, pemerintah dan swasta. Artinya, apa pun bentuk kegiatan pembangunan, upaya pengentasan kemiskinan tidak ditinggalkan. Selain merangsang dan membina keluarga miskin untuk lebih mandiri dan bebas dari kemiskinan, secara bertahap perhatian Pemko Solok juga terus diberikan.

Seperti melalui program fasilisasi dan stimulasi perbaikan rumah tidak layak huni serta pembangunan perumahan masyarakat kurang mampu. Memberikan pelatihan keterampilan berusaha bagi keluarga miskin melalui program pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil serta penyandang masalah kesejahterahaan sosial lainnya.
Agar program ini berjalan dengan harapan dan tepat sasaran, menurut Drs Muhammad, melakukan monitoring, evaluasi serta pelaporan terhadap program penanggulangan kemiskinan dilakukan secara berkala.

Sejalan dengan upaya pemerintah untuk memajukan perekonomian masyarakat serta mengentaskan kemiskinan, perhatian pemerintah terhadap sektor pendidikan juga tidak ditinggalkan. Malah, pencapaian renstra tahun ini, kualitas pendidikan Kota Solok mengalami peningkatan yang sangat berarti. Terutama kaitannya dengan peningkatan akses pendidikan, dengan target pencapaian angka pertisipasi kasar (APK) SD/MI sebesar 120,05 dan angka partisipasi murni (APM) yang mencapai angka 89,50.

Dari keterangan Kadis Pendidikan Kota Solok Drs H Nursyamsu, untuk APK SMP/MTs sebesar 113,90 serta untuk angka APM mencapai 87,15. Sedangkan tingkat SLTA/MA/SMK, untuk APK mencapai angka 148,91 dan untuk APM mencapai angka 113,90. “Peningkatan mutu pendidikan ruang kelas yang layak pakai untuk SD 80 persen, SMP 90 persen dan SMA/SMK 96 persen. Angka putus sekolah di Kota Solok rata-rata delapan siswa untuk semua tingkatan. Sementara angka siswa mengulang, tercatat sebanyak 573 siswa untuk semua tingkatan.

Sedangkan rata-rata hasil ujian akhir semester (UAS) SD sebesar 7,13, Ujian Akhir Nasional (UAN) SMP sebesar 5,10, dan SMA sebesar 6,44,” urai Nursyamsu. Upaya Pemko Solok dalam mengangkat kualitas pendidikan warganya, juga telah diakui pemerintah pusat dengan penghargaan Widyakrama Tahun 2007 yang diberikan langsung Presiden RI untuk bidang pendidikan, serta meraih mendali emas pada Olimpiade Ilmu Pengetahuan Tingkat Nasional ditahun 2007.

Erat kaitannya dengan upaya pengembangan kualitas SDM, peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kota Solok juga telah lahir terobosan-terobosan baru. Seperti halnya program dokter keluarga yang sangat memungkinkan setiap warga kota memiliki catatan medis secara berkesinambungan. Sehingga tingkat kesehaan masyarakat dapat terus terpantau oleh tenaga dokter, disamping pengobatan secara gratis. Begitu juga dengan pembebasan biaya dalam pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).

Pembangunan di bidang kesehatan, lebih diprioritaskan pada penurunan angka kematian bayi, penurunan angka kematian ibu melahirkan, penurunan prevalensi gizi kurang pada balita, serta meningkatkan kunjungan masyarakat ke puskemas disamping meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan itu sendiri.

Dari data yang ada pada Dinas Kesehatan Kota Solok, melalui program kesehatan terlihat adanya peningkatan status dan derajat kesehatan masyarakatnya. Paling tidak, salah satu indikatornya terlihat dari angka kematian bayi per 1000 angka kelahiran hidup kurang dari 26. Untuk angka kematian balita per 1000 angka kelahiran hidup kurang dari 58 balita. Sedangkan angka kematian ibu melahirkan per 1000 kelahiran hidup sebanyak 226 orang.

Sedangkan presentase balita dengan gizi kurang < 12 persen. Persentase proses persalinan dengan tenaga kesehatan mencapai angka 88 persen, dengan persentase cakupan masyarakat yang memanfaatkan puskesmas 12 persen. Angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup < 26 orang. Persentase kelurahan yang mencapai Universal Child Imunization (UCI) 100 persen. Sedangkan persentase kelurahan terkena Kejadian Luar Biasa (KLB) yang ditangani < 24 jam 100 persen.

Persentase bayi yang mendapat ASI ekslusif 100 persen. Sementara persentase keluarga miskin dalam memperoleh layanan kesehatan 100 persen. Namun yang terpenting, terlaksananya pengobatan gratis bagi warga dan masyarakat Kota Solok di Puskesmas. Pencapaian target serta terlaksananya setiap program yang dilahirkan oleh pemerintahan, tidak terlepas dari dukungan masyarakatnya. Di sini, kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada pemerintahan menjadi bukti bahwa tanpa dukungan masyarakatnya apa-pun yang akan diperbuat oleh pemerintah akan sulit terlaksana.

Civil society atau peran dan partisipasi masyarakat dalam melakukan berbagai bentuk pengawasan, baik dalam kebijakan publik maupun pembangunan daerah di Kota Solok sudah menjadi seuatu yang esensial. Kebersamaan antara pemerintahan dan rakyatnya dalam menentukan arah kebijakan pembangunan daerah, senantiasa diberi kesempatan Pemko Solok dalam berbagai kesempatan. Bagi Syamsu Rahim, dukungan dan partisipasi masyarakat terhadap pemerintahan merupakan modal dari kesuksesan pemerintahannya dalam menjalankan semua program yang dilahirkan. ***
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Kondisi Jalan di Tuapejat Memprihatinkan

20.11.2008

TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

BKD Tolak 830 Lamaran CPNS

20.11.2008 | Metro Padang

M YAMIN, METRO--Sebanyak 830 berkas surat lamaran ditolak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang. Saat proses pemberkasan dan…



advert-4.jpg

indosat.gif