Saat ini ada 3 tamu online
Syawir seorang Pemulung Tanpa Tempat Tinggal, Hidup Sebatang Kara pdf  | cetak |
Rabu, 03 September 2008
Usaha pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesajahteraan masyarakat telah tertata rapi. Namun secara kontek perlu penelusuran, seperti potret Syawir (61) seorang pemulung tanpa tempat tinggal yang tetap. Keberadaan pemulung di Kota Padang, barang kali sudah menjadi rahasia umum.
Hampir disetiap tempat pembuangan sampah dan tong sampah umum  diserbu para pemulung di kota berjulukan bengkuang ini. Mulai dari usia kanak-kanak hingga lansia, mereka bertarung untuk makan. Dengan berpenampilan lusuh dan sebuah karung yang disandang di pundaknya, ia berjalan dan mengerincangi tempat-tempat sampah untuk mencarai barang-barang bekas seperti botol dan kertas serta barang yang layak untuk di daur ulang. kemudian menjualnya ketukang loak. Begitulah Syawir menjalani hidupnya saban hari. 

“ Saya tidur di tempat biasa, jika mata mengantuk saya akan merebahkan badan saya,” uajar Syawir Kepada POSMETRO Jalan Wahidin, Selasa (2/9).  

Syawir mengatakan, ia sama sekali tidak punya rumah di Kota Padang. Ia punya famili jauh namun hidup adalah tanggungan sendiri. Ia sebatang kara  Ia tak punya anak dan istrinya Zanidar menceraikanya sudah berpuluh tahun yang silam dan telah bersuami di kampunya kabupaten solok.

Ia tidak pandai tulis baca namun dan ekonomi yang baik seperti yang sedang dicanangkan pihak terkait. Pengasilan yang ia peroleh dari memulung setiap harinya tidak tetap. Tempatnya pun selalu berpindah pindah, kemana arah kaki melangkah. Hal tersebut juga disebabkan tidak bagusnya persaingan sesama pemulung.” Saya sering di gertak dan usir oleh pemulung lain, padahal saya cuma cari makan,” ungkap lelaki bertubuh kurus dan berpakaian lusuh ini.

Lelaki paruh baya, seusia Syawir hidup dijalanan dan berpropesi sebagai pemulung merupakan sebuah pemandangan yang tidak selayaknya ada dan sudah sepatutnya mendapat perhatian pemerintah. Namun sawir mengaku tidak pernah mendapat apa-apa selain malam yang dingin dan panas mentari serta aroma sampah para penguni kota. Syawir memang tidak banyak bicara dan cendrung pendiam. Namun semangat syawir dalam menjalani hidup tetap berlajut, meski tidak bisa cepat yang pasti hingga kini ia tetep berjalan serta tidak lupa dengan tuhanya. “Memang sudah jalan hidup seperti ini, tapi saya bisa puasa,” tegasnya mengakhiri. (Firdaus Diezo)
 
Berikutnya >
peristiwa.gif

Kondisi Jalan di Tuapejat Memprihatinkan

20.11.2008

TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

BKD Tolak 830 Lamaran CPNS

20.11.2008 | Metro Padang

M YAMIN, METRO--Sebanyak 830 berkas surat lamaran ditolak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang. Saat proses pemberkasan dan…



advert-4.jpg

indosat.gif