|
Industri Rumah Tangga (IRT) Kosmetik Tradisional, Badak Bareh mulai
mati suri. Para pembuat bedak, yang terbuat dari campuran beras dan
beberapa rempah lainnya di daerah Tabiang Banda Gadang, perlahan mulai
menyusut. Dikarenakan, produk yang mereka buat tak lagi laku di
pasaran. Produk kosmetik ini, seperti telah dihimpit produk-produk
kosmetik yang lebih terkemas dengan rapi.
Begitupun dengan pembuat badak bareh di Kelurahan Bandar Tabiang sebagai sentral pembuatan bedak bareh, kini tak lagi bergaung. Para pelaku industri lebih memilih untuk mengolah sawah dan kebun, dari pada berkutat dengan tepung beras yang hasilnya tak lagi memadai. Namun, beberapa orang Ibu rumah tangga yang tak mempunyai keahlian apapun masih bertahan dengan pekerjaannya sebagai pembuat badak bareh.
Bahkan, menurut Dasmira (38), ibu rumah tangga yang masih bertahan memproduksi badak bareh, keberadaan para pembuat badak bareh sekarang ini, bisa dihitung dengan jari. Rendahnya daya beli masyarakat, kurangnya modal serta tak adanya perhatian Pemerintah untuk menyokong mereka dengan modal yang memadai menjadi pemicu matinya industri kosmetik tradisional itu.
“Payah kini, produk kami tak lagi dipercaya sebagai langkah jitu untuk memelihara kecantikan dan kelembutan kulit. Orang lebih cenderung untuk memakai produk yang terkemas dengan baik,” ujar Dasmira. “Dampaknya, kami yang merugi, penjualan tak seperti dulu lagi. Dalam sehari palingan cuma laku duo cupak (takaran) yang harganya cuma Rp 15 ribu. Bagaimana kami akan membiayai hidup kalau pendapatan hanya segitu. Sementara ongkos ke Pasar Raya saja Rp 7 ribu, sisanya cuma Rp 8 ribu. Sedangkan anak saya ada tujuh orang. Mau dikasih makan apa?,” celoteh Dasmira panjang lebar.
Memang, “nama besar” badak bareh sekarang ini sudah punah. Keberadaan badak bareh mulai terlupakan. Kosmetik yang terbuat dari campuran buah asam, daun nilam dan daun teh serta beras itu sekarang tak lagi bernilai. Padahal, khasiatnya cukup ampuh untuk merawat kulit wajah. Para wanita khususnya, sekarang ini lebih suka memakai produk seperti Ponds, Biore yang katanya lebih steril dan terjamin mutunya.
“Memakai masker dari bedak beras sekarang ini adalah suatu yang memalukan. Bayangkan saja, butiran bedak yang dicampur air di poles ke wajah, hingga kita kelihatan habis keluar dari tepung. Terpaksa dech, kalau memakai bedak begituan harus berdiam diri di rumah saja. Ga’ bisa kemana-mana,” ulas Yesi (19) remaja putri semester II Fisipol Unes.
Kontan saja, tanggapan miring para konsumen membuat ciut nyali para produsen untuk terus memproduksi. “Kami mati” begitulah lontaran Nur Aini (60), produsen badak bareh lainnya, menggambarkan nasib mereka saat ini. Dari hasil penuturan para pembuat bedak kepada POSMETRO, terbukti bahwa pekerjaan yang mereka lakukan untuk meracik bedak, tak sebanding dengan hasil yang didapatkan.
“Untuk membuatnya saja kita meghabiskan waktu seharian penuh. Hasilnya kalau dijual palingan cuma Rp 20 ribu. Mana cukup, untuk ongkos saja sudah habis,” ulas ibu tua yang telah melakoni pekerjaan sebagai pembuat badak bareh selama 30 tahun. Para pembuat bedak tradisional itupun kini tenggelam diantara jerat-jerat kemiskinan.
Terlebih saat Ramadhan ini. Tanpa keahlian yang lain, mereka terpaksa terus berdagang, walaupun nantinya hanya sebungkus nasi yang bisa mereka beli untuk mengisi perut. Akankah mereka akan terbiarkan begitu saja? “Kami butuh perhatian. Paling tidak kami dicarikan tempat untuk memasarkan produk. Hanya itu harapan kami. Kalau tidak, mungkin jalan satu-satunya meninggalkan pekerjaan yang telah turun temurun kami kerjakan,” tambah Dasmira yang selama 10 tahun hidup sebagai pembuat bedak bareh. (*)
|