|
SAWAHAN, METRO-- Keikutsertaan organisasi masyarakat (Ormas)
mengawasi rumah makan yang tetap buka selama siang Ramadhan, memang
sesuatu hal yang baik. Namun, ada kesepakatan yang menyebutkan, di
kawasan komunitas non muslim, memang diperbolehkan tetap membuka warung
makanan. Karenanya, hal tersebut tetap harus dihormati.
“Daerah ini, berada dalam wilayah hukum Indonesia yang menjunjung tinggi supremasi hukum. Sehingga, yang berhak melakukan penertiban dan pengawasan adalah institusi pemerintah seperti Pol-PP dan Polisi,” ujar Ketua Umum Pemuda Demokrat Kota Padang Ir Reri L Tanjung di Padang, Jumat (5/9). Sebagai Ormas, jelasnya, memang diharuskan untuk mendukung program pemerintah. “Kalau ada kesalahan dalam program itu, kita bisa memberi masukkan kepada pihak berwenang.
Biarkan institusi yang berwenang melakukan penertibannya,” tegas Reri menyikapi adanya Ormas yang terlibat bentrok, dengan warga dalam pengawasan rumah makan. Menurut ‘orang PDAM Padang’ ini, niat baik Ormas untuk ikut mengawasi rumah makan sebenarnya baik. Hanya saja, cara yang dilakukan belum menunjukkan niat baik. Sehingga, menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Kembalikan segala permasalahan kepada pihak yang berwenang menyelesaikannya. Sehingga, setiap persoalan yang ada dapat diselesaikan dengan jernih,” tegasnya. “Jika semua Ormas turut terlibat dalam pengawasan rumah makan, maka hal tersebut akan menimbulkan kekacauan. Jika setiap ormas merasa memiliki hak untuk melakukan pengawasan, akan terjadi perebutan kepentingan sehingga berakibat fatal terhadap keamanan.”
Dikatakan, dalam ketentuan daerah komunitas non muslim, memang diperbolehkan tetap membuka warung makanan. Hal tersebut, tetap harus dihormati. Namun dengan ketentuan warung makanan tersebut memang milik non-muslim dan diperuntukan khusus non-muslim. Non-muslim pun memiliki kewajiban saling menghormati, dengan tidak memperlihatkan tenda mencolok, jika rumah makan mereka tetap buka.
“Umat muslim harus mampu menghargai dirinya sendiri, dengan tidak membuka warung makanan selama Ramadhan. Jika kita sendiri tidak menghargai agama kita, bagaimana umat lain nantinya akan menghargai kita,” tegasnya. (can)
|