|
“h, km dmn?”
“gw d rmh, jd kt prg?”
“jd dnk. U jmp jm 2, tg ya”
Short massege service (sms) seperti di atas tak hanya milik kawula muda saja. Tak percaya, para pengguna perangkat komunikasi handphone beragam usia kini telah sangat mengerti dengan istilah-istilah pemendekan kata.
Sedianya, kita mengirim satu sms tentu, baik dengan karakter penuh atau
160 karakter tentunya dikenakan biaya yang seragam di semua operator
telekomunikasi. Bahkan, kalaupun lebih satu karakter saja, menjadi 161
huruf atau angka atau symbol atau karakter akan dikenakan biaya dua sms.
Rugi? Ya, begitulah kini pengguna perangkat telekomunikasi yang tidak
lagi bisa dibilang canggih ini. Karena, dari presiden sampai tukang
becak punya handphone. Dari ulama besar sampai masyarakat awam
menggunakan handphone untuk nelpon dan sms-an.
Barangkali, tulisan ini hanya akan berguna bagi pembaca yang kritis
saja. Bagaimana tidak, kemajuan teknologi dan fitur handphone membuat
masyarakat pengguna selain lalai dan abai, juga akhirnya tidak sadar
telah mengeluarkan banyak anggaran atau ekonomi biaya tinggi bagi
telekomunikasi berjalan mereka ini.
Per Karakter
15 Mei 2008 lalu, kita cukup dikejutkan dengan adanya promo sebuah
operator seluler, Esia yang ownernya Bakrie Telecom di samping promo
harga jor-joran dari pesaing sesama CDMA maupun GSM lainnya di
Indonesia.
Seperti bisa membaca keinginan masyarakat yang kritis dengan
pembiayaan handphone yang terus membengkak, sejak mula ada dan hadir di
Indonesia, apalagi di Padang, Esia menggebrak kata-kata mahal yang
melekat pada telekomunikasi jenis ini.
Adalah sms Rp1 per karakter yang dilaunching serentak se-Indonesia di
15 Mei tersebut. Gebrakan Esia lansung mendapat respon pasar dengan
makin digilainya Esia yang sekaligus menyediakan perangkat komunikasi
sepaket dengan kartu perdana. Lebih gila lagi, dilaunchingnya program
satu rupiah per karakter ini ternyata tanpa syarat, untuk semua
operator tujuan. Wah!
Sejak mula ada, Esia seperti hunjaman dan ancaman bagi operator
lainnya, tak peduli CDMA aaupun GSM, mereka berebut mengejar
ketertinggalan promo harga murah yang kian lama kian mendekati Esia.
Tentu saja, Esia punya trik marketing sendiri, yang sampai kini terus
diperbarui, termasuk adanya sms Rp1 per karakter ini.
“h, km dmn?”
“gw d rmh, jd kt prg?”
“jd dnk. U jmp jm 2, tg ya”
Jika dihitung dengan penghitungan tariff ala Esia, maka pelanggan Esia
hanya akan terkena biaya sms untuk sms pertama sejumlah Rp 8 saja. Di
sms kedua biayanya hanya Rp 21 saja. Demikian seterusnya. Akumulasi
pembiayaan per karakter ini sangat ideal bagi para sms-er yang kian
hari kian meramaikan pasar telekomunikasi.
Sebab, belum tentu semua panggilan bisa dijawab di waktu-waktu penerima
panggilan sedang menghadapi aktifitas lainnya. Sementara sms tentu saja
dapat dibaca kapan saja dan dimana saja penerima sms menginginkan.
Gile Beneer….
Bakrie Telecom selalu muncul dengan gagasan baru yang segar dan
inovatif. “Gile Beneer” yang pernah dilaunching di awal keberadaannya
di Indonesia, lewat program bundling Nokia 2112 serta diikuti kemudian
di akhir 2004 dengan program “Rumpi abiis” menjadikan Esia sebagai CDMA
wajib bagi para pengguna telekomunikasi mobile aktif, waktu itu di
Jakarta.
Tak hanya sampai di sana, Esia kemudian menggeber program “Hujan Duit”
yang memberikan manfaat pengguna Esia mendapat Rp50 setiap menerima
telpon semenitnya. Seingat penulis, Esia ditiru oleh salah satu
operator seluler dalam program yang mirip atau hampir serupa. Hanya
saja bedanya, program operator seluler lain ini telah berhenti sejak
lama, sebentar saja sejak digeber, namun Esia terus dipertahankan.
Esia telah menjadi trendsetter dalam industri telekomunikasi. Betapa
tidak, program panggilan internasional dengan tariff Rp. 1.188/menit ke
43 negara tujuan dengan kode SLI 1118 telah makin melelehkan hati para
pelanggan seluler se-Indonesia.
“Satu Rupiah Per Karakter, Murah Tanpa Syarat”. Pun sempat menggegerkan
persaingan seluler-seluler lainnya. Operator seluler lain berebut promo
dengan program hamper mirip. Hanya saja, tak ada yang mampu menyamai
identik Esia yang mengitung per karakter tanpa harus membaca sms
pengrim.
Biaya sms yang dihitung berdasarkan panjang pendeknya isi sms. Semakin
singkat isi sms yang dikirimkan maka semakin murah biayanya. Tentu
saja, tak ada yang mau berpanjang-panjang. Namanya saja pesan singkat,
tentu sesingkat mungkin.
Program sms Rp1 per karakter ini pun makin lekat di hati public
seluler. Memang, perhitungan seperti ini lebih adil dirasakan. Daripada
hitungan per paket sms yang 160 karakter per sms nya namun terkadang
hanya digunakan beberapa karakter saja.
Situasi ekonomi saat ini, yang menuntut konsumen berhemat pas sekali
dipasangkan dengan konsep Esia. Maka, tidak heran pasar telekomunikasi
saat ini menjadikan Esia sebagai cermin utama program-program public
yang ditawarkan. Apapun yang produk Bakrie Telecom (BTEL) ini munculkan
selalu menjadi pusat pehatian dan ditiru meski tidak serupa.
Greget Esia juga bahkan sempat menggegerkan pasar telekomunikasi setelh
sukses di HP Esia Merdekanya, kini tampil dengan HP Esia Hidayah yang
dilengkapi fitur-fitur Islam di dalamnya. Jelas, kompetitor jadi
bersungut-sungut. Banyak pihak kemudian menjadikannya gonjang-ganjing.
Namun, apa daya, Esia selalu di depan dengan inovasi dan kemajuan demi
pelanggan.
Kerjasama yang dilakukan dengan vendor ponsel selama ini, ternyata
sangat efektif. Paket Hape Esia Dobel Untung, Hape Esia Ngoceh, hingga
Hape Esia Merdeka, kemarin-kemarin sangat mempengaruhi pasar seluler
dan menjadikan Esia sebagai produk yang diburu serangkai dengan ponsel
yang disertakannya.
Trik Esia bersama “produk rumahan”, Wifone menggaet pelanggan ternyata
juga sangat menguntungkan semua pihak. Program yang masih akan efektif
sampai Desember 2008 ini, yakni membebaskan percakapan telepon sesama
pelanggan Esia di dalam kota yang sama cukup menggaet dan menyerap
pelanggan-pelanggan Esia & Wifone berikutnya. (*)
|