|
Pantai Tak Diramaikan Nelayan Lagi |
pdf
|
| cetak |
|
|
Minggu, 07 September 2008 |
|
Kumpul-kumpul di tepi pantai di kalangan anak muda ketika bulan
Ramadhan yang dikenal juga dengan ‘asmara subuh’ masih tetap membudaya.
Selama bulan Ramadhan pantai yang biasanya dipenuhi para nelayan, tapi
sekarang anak muda yang masih berbusana habis shalat mudah dijumpai
disana.
tersebut terlihat di Pasia Jondul Tabing, akhir pekan Sabtu (7/9) dan Minggu (8/9) daerah Pasia—sebutan pantai oleh masyarakat sekitar—ramai dikunjungi anak-anak muda. Mereka datang menggunakan sepeda motor dan ada juga jalan kaki. Pada umumnya, mereka datang berkelompok, mulai dari kelompok pria, perempuan dan ada juga yang berpasangan.
Setelah shalat Subuh sekitar pukul 05.45 WIB dan 06.00 WIB Pasia Jondul sudah ramai dikunjungi anak-anak muda. Tapi, yang memiriskan muda mudi tersebut mengenakan peci dan sarung diselempangkan di pundak—bagi kelompok pria. Sementara yang perempuan—masih mengenakan mukena dan ada yang sudah melepaskan mukenanya.
Dari pantauan POSMETRO, muda mudi hanya bermain ombak di tepi pantai atau hanya duduk-duduk di pasir pantai. “Duduak- duduak se di siko nyo. Dari tahun ka tahun lah biaso main di Pasia salasai shalat subuh,” kata Andi yang tinggal di Jondul IV Tabing.
Andi bersama teman-temannya sengaja datang ke Pasia Jondul, karena lokasi rumahnya berjarak sekitar 300 meter dari pantai. Sebenarnya, Andi kurang setuju dengan sebutan asmara Subuh, karena sejak kecil dirinya sering bermain ke pantai setelah shalat Subuh. “Tiok Ramadhan datang, Pasia Jondul iko rami samo anak-anak mudo. Indak itu se do, ado juo anak ketek yang datang samo urang tuo nyo,” kata Andi.
Suasana pantai setelah Subuh tak kalah asyik dan indahnya ketika sore—melihat sunset di tepi pantai. Udara pagi yang sejuk dengan titik embun menerpa kulit menjadi kenikmatan sendiri di tepi pantai. Ditambah lagi dengan melihat aktifitas nelayan yang berangkat ke laut mencari ikan.
“Orang bilang jalan-jalan ke pantai setelah shalat Subuh tak ada manfaatnya. Itu mungkin yang ingin berpacaran. Tapi bagi kami ke pantai ini hanya untuk refreshing dan jalan-jalan saja. Tidak lebih,” kata Ami Dwi Sandra salah seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta.
Duduk-duduk di tepi pantai dan bermain ombak, katanya mengingatkan kembali ke masa kecil. Dimana saat umur 10 tahun main ombak di tepi pantai adalah kegiatan rutin tiap akhir pekan. “Kalau hari biasa tidak pernah main ke pantai. Entah kenapa, suasana Ramadhan ini enak aja main ke pantai,” tuturnya. Meski banyak anak muda yang tak setuju disebut asmara Subuh, namun kebiasaan generasi muda ini seharusnya tidak merusak nilai ibadah puasa. (*)
|
|
|
|
20.11.2008
TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…
20.11.2008 | Metro Padang
M YAMIN, METRO--Sebanyak 830 berkas surat lamaran ditolak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang. Saat proses pemberkasan dan…
|
|