Saat ini ada 2 tamu online
Tradisi Asmara Subuh, Pelampiasan Ruang Kontak Sosial? pdf  | cetak |
Minggu, 07 September 2008
LUBUAK LINTAH, METRO-- Tradisi Asmara Subuh bagi kalangan remaja di sebagian Kota di Sumbar, merupakan kronologis penyimpangan dari dua sisi yang hilang. Satu sisi, memunculkan penyimpangan. Di sisi lainnya, mengarah ke arah pembenahan dan perubahan mental generasi.
Selain itu, asmara subuh juga salah satu bentuk momen pada Ramadhan, dalam mencari ruang kontak sosial bagi masyarakat yang menimbulkan dua sisi yang berlawanan. “Asmara subuh merupakan dampak dari kekurangan tata ruang publik yang tidak cukup di sebuah kota, dalam mengakomodir masyarakat,” ungkap salah seorang dosen Sosiologi Hukum Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang M Taufik SAg MSi kepada POSMETRO di Padang, Jumat (5/9) lalu.

Taufik mengatakan, asmara subuh yang kerap kali menjadi buah bibir di tengah masyarakat merupakan dua sisi yang hilang.  Sebab pelaku Asmara Subuh pada umumnya adalah pelajar dan mahasiswa umunya generasi muda, yang berjalan beriringan dan berkelompok seusai shalat Subuh pada Ramadhan di tempat-tempat wisata dan pusat pusat keramaian. Pada umumnya, Asmara Subuh terjadi pada masyarakat kota dan residu dari budaya metropolitan.

Satu sisi, hal tersebut merupakan kronologis penyimpangan di masyarakat demi kontak sosial dengan mengatas namakan Ramadhan. “Asmara subuh satu sisi merupakan ajang kontak sosial dan stu sisi merupakan liberalisasi pergaulan dan kuasa media yang datang memberi pengaruh pergaulan. Hingga menimbulkan penyimpangan budaya dan nilai-nilai relegius,” ujarnya.

Pembenahan prilaku generasi di tengan msyarakat yang dinilai sudah berlarut-larut, tidak terlepas dari fungsi dan peran ulama dan istitusi serta kultural. Mekanisme peran budaya dan dorongan keluarga adalah penyebab utama terciptanya identitas ambigu. Upaya Pemko yang kerap kali mengunakan  kekuatan hukum juga dinilai kurang menyelesaikan masalah.

“Mereka hanya butuh pembinaan, sebab belum tentu apa yang mereka lakukan tersebut, bisa dikatakan penyimpangan. Barang kali saja dakwah atau siraman rohani pada ramadhan tersebut, tidak nyambung dengan prilaku yang ada,” tambah Dewan Penegak Pedoman Prilaku KPMM Sumbar dan Direktur Riset dan Publikasi Revolt Institut ini.

Gejala penyimpangan yang terjadi pada Asmara Subuh oleh sebagian pelaku kontak sosial tersebut, merupakan ketidak sadaran remaja dan  reaksi ketidak mampuan komunitas, budaya, ulama terhadap kesadaran umat. “Penyimpangan yang terjadi sebagai bahagian ketidak sadaran remaja tentang nilai-nilai agama,” tegasnya mengakhiri.

Sayang Dilewatkan

Bagaimana tanggapan para remaja penggemar asmara subuh itu. Bagaimanapun, tradisi ‘Subuh Ceria’ tak bisa lepas dari kesenangan para muda-mudi di Kota Padang di waktu bulan puasa. Berseragam ala santri—peci dan sarung ataupun mukena bagi wanita— gerombolan remaja tersebut, memenuhi tempat-tempat menarik untuk melewati waktu Subuh. Kebiasaan menghabiskan waktu Subuh bersama tersebut, tak hanya menjadi kebiasaan remaja-remaja di pusat kota. Di kawasan pinggiran kota, kondisi serupa juga menghiasi tempat-tempat yang biasanya menjadi pusat mangkal para remaja.

Di Kecamatan Kuranji, jembatan By Pass Korong Gadang dekat Polsek Kuranji, menjadi kawasan yang dipadati para kaum muda. Layaknya sepulang dari menunaikan ibadah Subuh berjemaah, mereka terlihat bergerombol memadati jembatan tersebut. Rata-rata mereka datang berpasangan dengan mengendarai sepeda motor roda dua.

Namun, ada juga yang datang dengan rekan sejenis dengan tujuan mencari pasangan. Sabri (20), mahasiswa salah satu PTN di Padang mengaku, memanfaatkan tradisi Subuh Ceria untuk menggaet cewek. “Tradisinya kan kayak gitu, iseng-iseng sambil nyari cewek,” ujar Sabri, saat ditemui di jembatan Kuranji, Minggu (7/9). Ia mengaku, berkunjung ke lokasi tersebut dengan sejumlah rekannya.

Di lokasi tersebut, ia beserta tujuh rekan sebayanya terlihat nongkrong di jembatan tersebut. Jika diperhatikan, jumlah pengunjung pria lebih dominan dibanding perempuan. Rata-rata, kaum hawa yang berdatangan ke lokasi tersebut ditemani pasangannya. Jika diperhatikan dari gerak tubuh dan gaya bicara mereka yang datang berpasangan, bisa ditebak kalau mereka pacaran.

Nando, (19) mengaku menghabiskan waktu dengan pasangannya untuk menikmati segarnya udara sehabis Subuh. “Hanya sekedar jalan-jalan doang, ga’ lebih lebih dari itu kok,” ujarnya yakin. Menurut Nando, kegiatan tersebut hanya bisa dilakukan pada waktu Ramadhan. “Mumpung ada waktu, nyesal juga kalo ga’ dimanfaatin,” ujarnya. Di luar Ramadhan hal-hal serupa sulit dijumpai kecuali di hari minggu.

Di bulan puasa, tradisi tersebut bisa dijumpai hampir setiap hari sehabis Subuh. Apresiasi yang dilakukan kalangan remaja dengan tradisi tersebut cukup beragam. Ada yang menghabiskan waktu nongkrong di satu tempat. Sebagiannya, memanfaatkan kendaraan roda dua untuk berkeliling kota menghabiskan sejuknya udara di pagi hari. (r)
(z)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

DPRD Ragukan PE 6,0 Persen

05.12.2008

PADANG, METRO--Ketua Komisi C DPRD Padang Ir Priyanto MM meragukan target pertumbuhan ekonomi (PE) Kota Padang Tahun 2008…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Tak Bayar, Listrik PA Terancam Diputus

04.12.2008 | Metro Padang

PADANG, METRO--Kemelut antara PT Inti Griya Prima Sakti (PT IGPS), selaku operator Plasa Andalas (PA) dengan PT PLN…



advert-4.jpg

indosat.gif