|
Selama menjalani puasa, kreativitas kalangan remaja sedikit menurun.
Tentunya, hal tersebut tidak berlaku pada setiap remaja. Bagi sebagian
muda-mudi yang terlihat memenuhi kawasan Patimura dan A Yani, momen
puasa dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan finansial menambah uang
saku.
Bermodalkan kemauan dan sedikit uang, mereka menggelar dagangan pabukoan bagi masyarakat yang melintasi kawasan tersebut.Dengan menu-menu penggugah selera, para kalangan muda tersebut terlihat sibuk melayani pembeli.Uniknya, para remaja tersebut justru memanfaatkan kendaraan minibus miliknya untuk menggelar dagangan pabukoan.
Jenis masakan yang diperjualbelikan terlihat cukup beragam. Mulai dari gorengan, kolak, puding, dan lainnya. Di hari-hari biasa, mungkin kita bisa menemukan menu-menu tersebut di pasaran dengan penjual kalangan mamak-mamak. Di bulan Puasa, menu-menu tersebut dijajakan kalangan muda-mudi yang menarik perhatian. Sekelompok pedagang pabukoan di e coffee shop menawarkan beragam menu penggugah selera.
“Spesial Ramadhan kita menawarkan paket-paket berbuka yang tergolong ringan dan bisa dijangkau semua kalangan,” ujar Rinal, saat ditemui di jalan A Yani beberapa waktu lalu. Rinal beserta beberapa orang rekannya menawarkan paket hidangan ayam bakar plus nasi putih seharga Rp 10 ribu. Selain itu, mereka juga terlihat menggelar jajanan ringan sebagai makanan pembuka.
Menurut Rinal, kegiatan tersebut tersebut telah mereka lakoni sejak beberapa tahun belakangan. Biasanya mereka membawa pemanggang untuk pesta barbeque ke pinggir jalan untuk menyiapkan menu ayam bakar manis bikinan Dikdik Cwimie. Selain mampu menambah uang saku, mereka mengaku kegiatan tersebut berawal dari iseng semata. “Di sini kan rame, sayang sekali kalo gak dimanfaatin,” ujar Ded Kentung.
Dari usaha tersebut mereka mengaku mengantongi laba yang lumayan besar. Satu potong ayam bakar dijaul seharga Rp 10 ribu. Menu makanan yang disajikan pun tergolong unik—dari ala eropa hingga sunda dan masakan minang. Tak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan satu porsi spaghetti seharga Rp 10 ribu. Tarif serupa juga berlaku bagi satu porsi pecel lele.
Di hari-hari biasa, Rinal mengaku tidak menyajikan makanan-makanan tersebut pada menu cafe yang dikelolanya. “Ini lebih dari kreatifitas anak-anak di bulan puasa,” ujar Rinal. Diakui Rinal, selain mendapatkan keuntungan, ibadah puasa pun terasa menyenangkan dengan melakukan sesuatu. Biasanya, sejak pukul 17.00 WIB mereka sudah menggelar dagangan di atas meja kecil berisikan beragam menu penarik selera. Paling tidak, kreatifitas yang ditunjukkan remaja di bulan puasa patut diacungi jempol. (erinaldi)
|