Saat ini ada 9 tamu online
Asmara Subuh, Sarana Cuci Mata pdf  | cetak |
Minggu, 07 September 2008
Segerombolan remaja putri yang umumnya didominasi kalangan para pelajar SMA dan SLTP tampak  berjalan dan bercanda. Pakaian meraka tampak modif, umumnya dibahu kiri para remaja itu terlilit  mukena.Wangi parfum menyeruak dari tubuh mereka. Sesekali langkah mereka dipercepat  seakan mengejar waktu.
Padahal, jarum jam masih menunjukan 04.30 WIB. Nampaknya tujuan mereka tak  jauh lagi karena dari kejauhan terdengar keriuhan yang berasal dari tepian sungai. Suara motor terdengar nyaring meraung. Sesampainya di  bantaran Batang Bungo Ujuang Tanah, Kelurahan Pulau Aia, langkah mereka terhenti, mata para remaja itu terlihat celingukan, tebar pesona kepada lawan jenisnya yang berjubel duduk-duduk santai di sepanjang tepian sungai.

Ada yang duduk sendirian, bersama teman, bahkan ada yang sedang  berpelukan. Ah, tampaknya waktu jelang imsak mereka gunakan untuk melepas rindu yang terbelenggu puasa masing-masing. Menurut Yuni (16), wanita yang baru menginjak bangku kelas dua SMA di salah satu sekolah di Kecamatan Lubuak Bagaluang, Hal ini mereka lakukan untuk sekedar cuci mata jelang berangkat pesantren ramadhan. 

“Kami ke sini hanya sekedar cuci mata jelang melaksanakan pesantren ramadhan. Bahkan ada sebahagian teman yang sengaja berpacaran ke tepian sungai ini. Namun tak menjurus perbuatan tercela, paling banter cuma pegangan tangan dan saling peluk,”celoteh Yuni sedikit lugu. Senada dengan Yuni, Niko (14), remaja yang tak lagi meneruskan sekolahnya itu datang ke Tepian Batang Bungo Ujuang Tanah ini untuk tebar pesona dan menggaet wanita. “Lumayan bang untuk cari cewek “paket Ramadhan”. hanya itulah yang meluncurari mulut Niko.

Adapu kondisi tepian tersebut sangat kontras alis semakin kelam dan sunyi tepian yang dihuni sepasang anak manusia tersebut, tingkah laku mereka semakin “mengganas”. Suara yang sedikit aneh dan bunyi kresek alas duduk mereka semakin memadu dengan gemercik air sungai. Suasana semakin “panas”. Memang, antah siapa yang awalnya memulai tradisi asmara subuh di tepian batang bungo ini. Jelasnya, semenjak puluhan tahun yang lalu, tradisi asmara subuh Batang Bungo sudah mengakar kuat.

Pelakunya dalah para remaja tanggung yang di dominasi oleh pelajar SLTP dan SLTA dan sedikit mahasisiwa yang kebetulan kampusnya bertempat di seberang sungai. Tak hanya para kawula muda yang sedang memadu asmara yang akan kita temui di sini, namun ada juga yang hanya kongkow-kongkow dengan kelompoknya. Bahkan ada yang sedang melakukan akselerasi dengan motor, balapan liarpun akan menyinggahi mata jika melewatkan subuh di tepian Batang Bungo.

“Kalau asmara subuh di tepian Batag Bungo Ujuang Tanah ini mah sudah dari dulu nak. Waktu saya sebesar kalian juga sudah terbiasa dengan hal beginian. Namun tak selalu  yang datang ke sini untuk pacaran. Asmara subuh bukannya waktu untuk berbuat bmaksiat. Cuma duduk-duduk bersama kawan jelang azan subuh bergema. Walaupun ada  generasi saya dulu yang salah kaprah dan melakukan adegan mesum di sini,”terag Etek Ida yang waktu ditemui POSMETRO mau berangkat untuk sholat subuh.(***)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Syawir seorang Pemulung Tanpa Tempat Tinggal, Hidup Sebatang Kara

03.09.2008 | Metro Humaniora

Usaha pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesajahteraan masyarakat telah tertata rapi. Namun secara kontek perlu penelusuran,…

Paket SEK Toko Selamat

20.11.2008 | Metro Gaya

MENDEKATI Hari Raya Kurban kali ini, Toko Selamat yang merupakan spesialis penyedia bumbu-bumbu mengeluarkan paket terbaru mereka. Paket…

peristiwa.gif

Kondisi Jalan di Tuapejat Memprihatinkan

20.11.2008

TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

BKD Tolak 830 Lamaran CPNS

20.11.2008 | Metro Padang

M YAMIN, METRO--Sebanyak 830 berkas surat lamaran ditolak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang. Saat proses pemberkasan dan…



advert-4.jpg

indosat.gif