|
Gelar Lomba Keagamaan, Atasi Asmara Subuh |
pdf
|
| cetak |
|
|
Minggu, 07 September 2008 |
|
PADANG, METRO-- Menggelar perlombaan keagamaan usai pelaksanaan
shalat subuh dinilai Majelis Ulama Islam (MUI) solusi untuk mengubah
kebiasaan asmara subuh di kalangan remaja pada bulan Ramadhan. Di
samping mengatasi asmara subuh, perlombaan keagamaan juga dapat
dijadikan evaluasi pelaksanaan kegiatan pesantren ramadhan yang
digelar.
Tak ketinggalan, pengawasan orangtua terhadap remaja mesti
ditingkatkan sehingga kegiatan asmara subuh tidak menodai sucinya bulan
ramadhan.“Asmara Subuh digelar remaja mengisi kekosongan waktu usai shalat subuh, apalagi pelaksanaan pesantren ramadhan libur di hari minggu. Mengantisipasi hal tersebut tentunya dengan mengisi kekosongan waktu mereka lewat kegiatan yang bermanfaat seperti lomba hafalan ayat Al-Quran yang digelar seusai shalat subuh,” ujar anggota Fatwa MUI Sumbar M. Ridho Nur kepada koran ini, kemarin.
Kegiatan lomba hafalan ayat Al-Quran ini, tentunya membawa manfaat bagi remaja. Diantaranya sebagai upaya meningkatkan kecintaan terhadap Al-Quran, juga menghindarkan remaja dari perbuatan maksiat. Sebab, kegiatan asmara subuh lebih banyak membawa mudharat daripada manfaat bagi remaja. Hal tersebut juga dapat dijadikan evaluasi tiap minggu bagi pelaksanaan pesantren ramadhan. Apalagi tahun ini pesantren ramadhan lebih menitikberatkan pada hafalan ayat dan peningkatan aqidah serta moral. Jika hafalan ayat Al-Quran digelar hingga pukul 09.00 wib tentunya remaja tidak memiliki waktu untuk asmara subuh.
Meskipun demikian, pengawasan orangtua juga memegang peranan penting mengawasi anaknya untuk tidak melakukan asmara subuh. Terutama bagi remaja perempuan, jika memang khawatir tidak dapat diawasi dengan baik, maka orangtua dapat melarang putrinya untuk tidak ke shalat ke masjid. Sebab pada dasarnya perempuan tidak diwajibkan untuk melaksanakan shalat di masjid. Namun sebaliknya jika mampu melakukan pengawasan terhadap remaja putri, maka tidak masalah jika remja putri tetap melaksanakan shalat di masjid.
Selanjutnya Ketua MUI Bidang Dakwah Duski Samad mengatakan sebenarnya frekuensi asmara subuh saat ini dibandingkan tahun sebelum digelarnya pesantren ramadhan, mulai berkurang. Meskipun demikian ia pun mengharapkan frekuensi akan terus berkurang, sehingga kegiatan yang tidak membawa manfaat ini dapat hilang sama sekali.
“Kalau hanya sekadar bersantai bersama keluarga bukan masalah, sehingga pengawasan aparat bagi remaja perlu dilibatkan. Sebab jika ada pengawasan biasanya mereka yang semula berniat macam-macam tentunya berfikir ulang untuk berbuat hal yang merusak nilai ibadah,” ujarnya. Ia menilai pengawasan yang utama sebab pembelajaran tentang akhlak dan moral selalu digelar baik di sekolah ataupun di pesantran ramadhan. Namun sebagai remaja keisengan melakukan berbagia hal tentunya sulit dibendung. Sehingga pengawasan dari orangtua, lingkungan serta aparat yang memegang kendali. (rpg)
|
|
|
|
|
|
05.12.2008
PADANG, METRO--Ketua Komisi C DPRD Padang Ir Priyanto MM meragukan target pertumbuhan ekonomi (PE) Kota Padang Tahun 2008…
04.12.2008 | Metro Padang
PADANG, METRO--Kemelut antara PT Inti Griya Prima Sakti (PT IGPS), selaku operator Plasa Andalas (PA) dengan PT PLN…
|
|