|
JAKARTA, METRO-- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan
masih akan mengalami koreksi pada pekan depan. Hasil pertemuan Bank
Sentral AS (The Fed), Selasa 16 September 2008 mendatang diharapkan
dapat membawa angin segar ke lantai bursa. "Kelihatannya IHSG masih
akan terkoreksi pekan depan. Belum ada tanda-tanda muncul demand yang
bisa mendorong IHSG.
Sepertinya hasil The Fed meeting Selasa mendatang sangat ditunggu-tunggu bursa di seluruh dunia dan diharapkan dapat membawa angin segar," ujar analis PT Optima Securities, Iksan Binarto saat dihubungi detikFinance, Sabtu (13/9). IHSG sepanjang pekan lalu bergerak turun 10,78%, disebabkan oleh aksi jual besar-besaran yang diawali oleh foreign sale. Aksi selling tersebut kemudian diikuti oleh investor-investor domestik.
Tren melemahnya harga minyak yang kemudian berdampak pada penurunan harga-harga komoditas, memberikan tekanan pada investor yang portofolionya berbasis komoditas. Sehingga mereka memilih melepas portofolionya besar-besaran. Harga minyak sempat menyentuh level US$ 100/barel. Intervensi OPEC dengan langkah penurunan produksi tidak berpengaruh terlalu banyak. Rupanya penarikan asing dalam volume yang cukup besar, mempengaruhi posisi rupiah.
Dalam sepekan terakhir, menyusul keluarnya rupiah dalam jumlah besar seiring dengan anjloknya portofolio saham, mendorong rupiah jatuh 63 poin menjadi Rp 9.435 pada penutupan Jumat (12/9). "Hasil The Fed meeting tampaknya bisa menjadi acuan bagi bursa di tengah aksi panic selling sepekan terakhir. Kalau FFR (Federal Fund Rate) tetap di level 2%, saya kira dampaknya akan positif. Namun jika FFR naik, dampaknya pada IHSG bisa lebih buruk dari yang terjadi sekarang," ujar Iksan.
Menurut Iksan, apa yang terjadi di lantai bursa selama sepekan terakhir terutama didorong oleh penurunan harga minyak dan komoditas, kemudian fluktuasi bursa-bursa regional, aksi para spekulan dan margin call. "Oleh karena itu, untuk kembali mendorong IHSG bergerak naik, dibutuhkan suatu sentimen positif yang bersifat fundamental agar investor kembali masuk ke saham. Keputusan The Fed mengenai FFR diharapkan bisa menjadi acuan," ujar Iksan seperti dilansir detikfinance, kemarin. (int)
|