|
PUSAT kota, adalah sebuah tempat, ruang, daerah yang teramat gampang untuk dimasuki oleh apa saja. Dalam kecamuk modernisasi dan globalisasi pusat kota sangat rentan diterobos oleh kekuatan luar. Sebutlah itu budaya. Atau mungkin saja virus-virus terhadap laku dan sikap yang sesungguhnya tidak berkesesuian dengan sebuah daerah tertentu.
Tapi sayangnya, sesuatu yang tidak berkesesuian itu malah cenderung
mendapat tempat di sebagian masyarakat. Akhirnya terjadilah sesuatu
yang tidak ideal, yang tidak semestinya, bahkan terasa amat timpang,
atau malah norak.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, walau kita tahu, bahwa semua itu
bukanlah hal yang mudah, penjagaan atau membangkitkan dan menyemarakkan
kembali budaya sendiri yang telah ada, adalah sesuatu yang mungkin
mampu dijadikan sebagai bagian kecil dari jalan keluar. Stidaknya,
upaya untuk bertahan pada akar yang ada agar tidak ikut-ikutan lebur
oleh masuknya budaya-budaya baru bernama kekinian yang bukan milik kita.
Dari dasar pemikiran demikian, pemerintah daerah kota Payokumbuah
melalui kantor Pariwisata Seni dan Budaya bekerjasama dengan masyarakat
kesenian kota Payokumbuah menggelar pertujukan Seni Religi dengan tajuk
“Malam Seribu Takbir”.
“Malam Seribu Takbir” adalah sebuah pertunjukan kolaborasi dari
berbagai elemen kesenian yang bernuansa islami seperti musik, takbiran,
shalawat, qasidah berzanzi, puisi, teater, tari dan lain-lain yang
dibentuk secara kolosal (melibatkan lebih kurang 70 orang pemain.Red).
“Ketua pelaksana Endi Jacoeb, kepada POSMETRO, Senin (22/9) di
Payokumbuah, mengatakan, pertunjukan yang bakal menghebohkan warga kota
Payokumbuah pada malam takbiran itu bakal melibat seniman-seniman yang
telah eksis di kota Payokumbuah seperti Ijot Goblin, Youngki Wahid,
R.Della Nasution, Iyut Fitra dan banyak lagi, “ujarnya.
Kemudian ditempat terpisah, Kakan Pariwisata Seni dan Budaya kota
Payokumbuah, Yoherman, SH, S.Sos kepada POSMETRO, menyebutkan, kegiatan
ini adalah salah satu upaya untukl membendung arus luar yang
mencemaskan. Sebelkum buadaya, sebelum agama dikalahkan oleh berbagai
hal yang sebenarnya bukan milik kita, kita harus memperkokoh diri untuk
menghadangnya.
Apa yang terbayang oleh kita, ketika arakan panjang mobil-mobil yang
bermuatan orang-orang yang menyerukan takbiran meninggalkan pusat kota,
apa yang tersisa setelah itu? Barangkali hanya pusat kota yang hening.
Atau suara lagi dangdut dari VCD player pedagang kaki lima.
“Atau guncang gitar dan kulele pengamen-pengeman anak punk. Atau
suara-suara lain yang sebetulnya tidak ada kaitannya dengan malam
takbiran. Sementara kita tahu, pusat kota sangat butuh siraman
kesejukan, siraman rohani. Semoga acara “Malam Seribu Takbir” yang
digelar seniman kota Payokumbuah menjadi seribu arti bagi masyarakat
luas,”ujar Yoherman. (*)
|