Saat ini ada 7 tamu online
Seorang Korban Kecelakaan China Airlines Lumpuh pdf  | cetak |
Rabu, 24 September 2008
DENPASAR, METRO-- Korban pesawat Boeing 747-400 milik China Airlines yang terguncang di perlintasan langit pulau Sulawesi, Kalimantan dan Filipina, Sabtu (20/9) lalu sekitar pukul 13.05, masih tersisa satu orang di RS Sanglah Denpasar.  Dia adalah Huang Hui Min, 32. Menurut dr Gusti Ngurah Win Aryana SpB, Huang Hui Min mengalami kelumpuhan di kedua kaki, patah tulang rusuk dan betis, serta cidera syaraf.
Win Aryana juga mengatakan dirinya menangani dua pasien dari korban guncangan pesawat dengan nomor penerbangan CAL 687 tersebut.  “Saat itu langsung kita lakukan operasi dan observasi,”  jelasnya.

Dua pasien yang ditangani Win Aryana itu selain Huang Hui Min adalah Huang Yung Te. Pramugara China Airlines itu pergelangan tangan kanannya patah. “Tapi atas permintaan keluarganya, Yung Te langsung terbang ke Taiwan,” paparnya.

Alasan kepulangan Yung Te, selain karena kondisinya sudah membaik dan tidak ditemukan cidera lain, kerabatnya minta agar Yung Te menjalani pemeriksaan MRI. “Kebetulan di sini tidak ada, jadi harus ke luar negeri,” jelas Win Adnyana.

Sementara itu Hui Min yang sebelumnya sempat dirawat di HCU RS Sanglah, dipindah ke ruang paviliun Amerta Wings Internasional. “Pasien satu ini dirawat lebih lama karena mengalami kelumpuhan dan cidera syaraf akibat benturan keras saat turbulensi di atas pesawat,” jelas dr Win Adnyana.

Menurutnya, dua orang penumpang yang duduk satu kabin sempat berkisah kepadanya tentang peristiwa mengerikan di langit tersebut. Menurut penuturan kedua penumpang itu, pramugara pesawat sampai terpelanting saat pesawat yang terbang dari Taipei menuju Bandara Ngurah Rai ini diempas jetstream (angin kencang). Saat itu pramugara tersebut sedang mondar-mandir di antara dua baris kursi yang ada di sisi kiri dan kanan. 

Lebih menarik lagi adalah pengakuan Chang Yung An alias Jong Die, 28, satu-satunya korban asal Tiongkok yang fasih berbahasa Indonesia.  Menurutnya, kasus turbulensi pesawat sudah sering terjadi. Namun pengalamannya bersama China Airlines sungguh paling dahsyat. “Kami mengira semua akan mati dan pesawat akan jatuh,” jelasnya. Maklum, saat itu pesawat berada dalam ketinggian di atas 35 ribu kaki dan “tersangkut” di ruang  hampa udara.

Saat insiden lampu kabin juga masih menyala. Beruntung awak pesawat berhasil mengirim sinyal darurat sehingga pesawat milik China Airlines ini berhasil mendarat darurat secara “mulus” di parkir apron gate 7 Bandara  Ngurah Rai. (jpnn)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

DPRD Ragukan PE 6,0 Persen

05.12.2008

PADANG, METRO--Ketua Komisi C DPRD Padang Ir Priyanto MM meragukan target pertumbuhan ekonomi (PE) Kota Padang Tahun 2008…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Tak Bayar, Listrik PA Terancam Diputus

04.12.2008 | Metro Padang

PADANG, METRO--Kemelut antara PT Inti Griya Prima Sakti (PT IGPS), selaku operator Plasa Andalas (PA) dengan PT PLN…



advert-4.jpg

indosat.gif