|
LIMOPULUAHKOTO, METRO-- Dalam beberapa kesempatan Safari
Ramadhan Bupati dan Wakil Bupati Limapuluh Kota selalu ditanya
tentang kelangkaan pupuk kimia terutama untuk tanaman padi dan karet.
Sesungguhnya hal itu tidak perlu terjadi, jika masyarakat atau petani
tahu kegunaan pupuk.
Sesungguhnya puluk yang diberikan untuk menambah unsur hara ada dua macam ditinjau dari bahan bakunya yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik (pupuk kimia). Pupuk kimia dewasa ini sudah semakin langka, tidak saja di Limapuluh Kota tetapi dirasakan juga oleh penduduk lain di negeri ini. Petani memilih penggunaan pupuk kimia karena persentase kandungan unsur hara dalam pupuk kimia relatif tinggi dan lebih praktis. Penggunaan pupuk organik dirasakan petani kurang praktis, kotor dan jumlahnya harus banyak.
"Karena pengadaan pupuk kimia semakin langka, dan harganya cendrung naik dan susah pula didapat maka sudah saatnya dicarikan pemecahannya. Alternatif pemecahan masalah yang baik adalah mengurangi ketergantungan kepada pupuk kimia tersebut dan segera beralih ke pupuk organik. Dampak negatif penggunaan pupuk kimia yaitu tanah menjadi keras, air tercemar, keseimbangan alam terganggu," kata Prof. DR. Drs. Erman Mawardi.Dipl. AIT, seorang Peneliti Sumber Daya Air di Puslitbang SDA, Departemen PU.
Dalam diskusi diredaksi Padang Ekspres Payakumbuh, Selasa (23/9), Ketua Umum Gonjong Limo Bandung yang juga pemerhati tanaman padi itu, melihat pupuk organik adalah bahan yang berasal dari limbah tanaman, kotoran hewan atau hasil pengomposan seperti kotoran sapi, kotoran ayam, jerami, atau sisa tanaman lain, pupuk hijau dan hasil pangkasan tanaman kacang-kacangan. Menurutnya, pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah dan kandungan karbon organik tanah, memberikan tambahan hara, meningkatkan aktivitas jasad renik (mikroba tanah), memperbaiki sifat fisik tanah dan mempertahankan perputaran unsur hara dalam tanah dan tanaman.
"Pemberian pupuk organik ke lahan sawah dapat menyuburkan tanah sehingga menaikkan hasil panen. Untuk tanaman padi produksi bisa meningkat hingga 10% - 30%. Biji lebih bernas dan tidak cepat busuk. Tanaman akan dijauhi hama atau penyakit dan jamur karena jaringan tanaman yang terbentuk lebih kuat sehingga daya tahannya pun meningkat," jelasnya.
Masyarakat Jawa Barat kata Erman, yang menanam padi dengan metode Tanam Sebatang di samping menggunakan pupuk organik padat juga menggunakan pupuk organik cair yang dibuat sendiri. Pupuk organik cair dibuat melalui proses permentasi dan pengelolaan Micro Organisme Local (MOL). Bahannya dari tulang-tulang ikan, limbah pemotongan hewan, buah-buahan, air beras, dll. Proses permentasi tersebut menggunakan air nira atau air kelapa dengan waktu yang diperlukan sekitar 15 hari. Keong mas yang banyak dijumpai di sawah dapat dijadikan bahan pupuk cair.
Caranya: bahan keong mas dimasukan ke dalam wadah/tampungan sebanyak sepertiga bagian. Ditambah air kelapa muda sepertiga bagian dan selanjutnya air gula/air nira sepertiga bagian lagi. Kemudian ditutup karena berbau. Setelah sekitar 21 hari pupuk cair tersebut dapat digunakan untuk berbagai tanaman termasuk tanaman padi. "Seorang petani, Hanif asal Padang Kandi mencoba penggunaan pupuk organik padat dan pupuk organik cair dari bahan keong mas untuk tanaman padinya di bantaran sungai Batang Sinamar Padang Jopang.
Ia tak peduli dengan pupuk kimia yang langka dan harganya tinggi. Dengan mengggunakan pupuk organik produksi padinya telah meningkat. Hanif telah beralih ke pupuk organik sejak sulitnya mendapatkan pupuk kimia dan produksi padinya meningkat sekitar 30 persen. Inilah salah satu solusi penanganan kelangkaan pupuk kimia, tukas Erman. (jon/rpg)
|