|
BAGAIKAN sebuah pelita dalam kegelapan dan guru bagaikan embun penyejuk
dalam kehausan dan bagaikan patriot pahlawan bangsa dan terpujilah
wahai engkau ibu bapak guru, namamu akan selalu hidup dalam sanubari,
semua bhaktimu akan ku ukir dalam hatiku, bagaikan prasasti
terimakasihku untuk pengabdianmu.
Guru SD 09 Negeri Kenagarian Maek, kecamatan Bukit Barisan, kabupaten Limopuluah Koto, tak pernah bermimpi bahwa pada suatu saat ia akan berkesempatan diundang oleh Kepala Negara atau Presiden RI ke Istana Negara. Pasalnya, kenagarian Maek, salah satu nagari yang terpencil di kabupaten Limopuluah Koto.
Kesempatan salah seorang guru di nagari Maek diundang ke Istana itu untuk menghadiri puncak peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 63 tanggal 17 Agustus 2008 lalu, namun kalau Allah memang menghendaki siapapun tak bisa menghalangi, demikian juga kalau Allah tak mengizinkan, betapapun hebatnya kita.
Seperti yang diuraikan Yunaidi Fedrizal.A.Md salah seorang Guru SD 09 Nagari Maek Kecamatan Bukik Barisan kepada POSMETRO, kemarin, di Payokumbuah, dirinya bertolak ke Jakarta, karena dinilai berprestasi dan tidak pernah mengeluh ditempatkan di daerah terpencil, sehingga dengan bangga mendapat undangan ke Istana Negara. Yunaidi yang merupakan salah seorang guru dari 8 orang guru yang mengajar di SD 09 Negeri Maek yang dikategorikan berada didaerah terpencil itu, justru sebagai salah seorang guru yang sangat beruntung. Entah apa yang menjadi penyebab Yunaidi terpanggil atau diundang ke Istana Negara tahun ini.
Yang jelas ia tidak pernah mengeluh selama ia ditempatkan untuk mengajar di SD 09 Maek ini dan juga tidak pernah pula mengajukan dan membuat surat permohonan pindah Kepada Kepala Sekolahnya, Kacabdin dan Kepada Kepala Dinas Pendidkan Kabupaten Limopuluah Koto, berkemungkinan itu merupakan salah satu penyebab diundang untuk ikut hadir pada Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 63 tahun 2008 ini.
Pada tahun ini di Sumatera Barat Guru SD yang berada didaerah terpencil yang diundang untuk mengikuti Puncak peringatan hari ulang tahun Kemerdekaan Repulik Indonesia ke 63 tanggal 17 Agustus 2008, selain Yunaidi Fedrizal juga salah seorang Guru SD 29 Katiagan Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat yaitu Defliarni, dua orang guru SD terpencil itulah di Sumatera barat yang mendapat berkah dari Allah dan yang mendapat penghargaan dari Pemerintah.
“Saya memang merasakan bahwa nikmat dan rahmat Tuhan datangnya tak pernah diperediksi, rasanya ia merasa tak percaya namanya dipanggil oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Limopuluah Koto untuk ikut hadir diistana Negara dan sekaligus untuk bertemu langsung dengan Presiden dan Wakil Presiden RI di Istana Negara pada puncak Peringatan Hut RI ke 63 tanggal 17 Agustus 2008,”ujarnya.
Mengapa saya yang terpanggil untuk mewakili Sekolah Dasar yang berada didaerah terpencil di Kabupaten Limopuluah Koto ini datang ke Istana Negara Jakarta?, mengapa tidak Kepala Sekolahnya (Yasri.Red) yang dipanggil?, Yunaidi tak pernah tahu apa jawabannya, namun yang jelas, Yunaidi sangat bersyukur Kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Limopuluah Koto terutama kepada Bupati dan Wakil Bupati, atas limpahan rahmat ini, dengan air mata berlinang guru kelas IV SD 09 Maek ini menyampaikan rasa harunya.
Saat ditanya pengalaman masa lalu, Yunaidi menjelaskan bahwa saya memang belum bisa berbuat banyak dengan waktu baru 5 tahun yang dilalui semenjak menjadi guru di SD 09 Maek ini, mungkin belum berarti apa-apa jika dibandingkan dengan rekan guru lainnya yang sudah mengabdi puluhan dan bahkan belasan tahun. (*)
|