MACET-- Ruas Jalan Padang-Bukittinggi tepatnya di Silaiang Padangpanjang terlihat macet, kemarin.
PADANG, METRO-- Seperti tahun sebelumnya, beberapa ruas jalan di
Sumbar menjadi langganan macet pada liburan lebaran. Seperti lebaran
Idul Fitri 1429 H ini, kemacetan terparah terjadi di ruas Jalan Padang
-Bukittiggi, di kawasan Silaying, Koto Baru, Padang Lua. Di daerah ini
kemacetan total terjadi sejak hari pertama hingga hari H + 4 (Minggu
5/10) lebaran.
Perjalanan Padang -Bukittiggi yang biasanya ditempuh dua jam, pada masa
liburan ini masyarakat harus rela menghabiskan waktu lebih kurang enam
jam. Lamanya perjalanan itu karena kendaraan terjebak dalam kemacetan,
yang cukup panjang dari Kayu Tanam Padangpariaman mencapai Koto Baru
Tanah Datar jelang Kota Bukittinggi.
“Setiap tahun khususnya lebaran daerah ini memang sering terjadi
kemacetan. Tapi tahun ini macetnya cukup luar biasa, karena mobil atau
kendaran roda dua sangat sulit bergerak,” ujar Ani salah seorang
Pedagang Kali Lima (PKL) di Air Mancur Lembah Anai kepada POSMETRO,
Minggu (5/10).
Kemacetan bertambah dengan seringnya iring-iringan mobil pejabat atau
tamu daerah yang diiring mobil patroli. Kendaran yang tidak disiplin
sering mengambil kesempatan untuk mendahuli kendaran yang antri
berjam-jam untuk bisa lewat dengan mengikuti kendaran patroli.
Peristiwanya terjadi di daerah Koto Baru Tanah Data, saat kendaran
patroli mengawal mobil tamu daerah, mobil yang rata-rata sudah tidak
sabar lagi dengan kondisi macet mengikuti mobil patroli itu. Sehingga
jalur yang hanya pas untuk dua kendaran terpaksa terjadi tiga jalur,
sehingga jalur tiga ini menyebabkan kemacetan.
“Mobil patroli yang mengiringi mobil pejabat juga mempegaruhi
terjadinya kemacetan. Pejabat di daerah ini harus mencari alternatif
lain agar persoalan ini tidak terjadi setiap lebaran. Kami pulang
kampung untuk bersenang-senang tapi dengan kondisi ini kami sangat
berat untuk pulang tahun berikutnya,” ujar Era perantau Minang dari
Jakarta yang sudah dua tahun tak pulang kampung.
Sementara, Sabtu (4/10) menjadi puncak arus balik lebaran. Sejumlah
ruas jalan di Sumbar, terjadi macet total. Kendaraan terpaksa
“merangkak” menyusuri badan jalan yang dijubeli beragam jenis kendaraan.
Macet mulai terjadi memasuki Sabtu siang. Arus kendaraan bermotor di
ruas jalan Kayu Tanam-Padang Panjang macet total. Terutama jalur menuju
Bukittinggi. Beragam kendaraan yang umumnya bernopol dari provinsi
tetangga dan juga daerah lain yang ada di Sumbar, memenuhi badan jalan.
Walau macet, upaya saling salip tetap terjadi yang umumnya dilakukan
pengendara sepeda motor.
Pengendara yang lepas dari jebakan macet di Padangpanjang, banyak yang
memilih jalur alternatif seperti di Koto Baru. Sayangnya “jalan
kampung” yang tak lebar itu, juga mengalami macet, karena banyak
pengendara memilih jalur yang tembus ke Baso itu.
Sementara itu dari arah Payakumbuh menuju Padang, juga tak luput dari
macet. Salah seorang pengguna travel melaporkan, waktu tempuh
Payakumbuh-Padang yang biasanya 3 jam, menjadi 6 jam lebih. Karena
kendaraan yang ditumpanginya tidak bisa melaju terhalang macet. “Ambo
dari Payokumbuah jam 9 pagi pakai travel. Baru jam 3 sampai di Padang.
Sabana macet,” kata Herlina S Gaya kepada POSMETRO.
Kunjungan Meningkat
Kota Bukiktinggi sebagai kota tujuan wisata dan perlintasan selalu
ramai dikunjungi masyarakat yang mudik menghabiskan masa liburannya.
Ramainya kunjungan itu, mengakibatkan seluruh jalan raya menuju
Bukiktinggi mengalami kemacetan paling sedikit mencapai radius satu
kilometer.
Berdasarkan pengamatan langsung POSMETRO di lapangan, puncak arus mudik
terjadi pada H - 2 dan H + 4 yaitu memasuki arus balik. Dalam Kota
Bukiktinggi kemacetan hanya terlihat di jalan-jalan menuju pasar atas
atau jam gadang sebagai salah satu tujuan wisata. Sehingga untuk
mengatasi kemacetan yang lebih parah lagi, pada H + 3 tepatnya Sabtu
(4/10) petugas seperti polisi dan LLAJ terpaksa menutup arus kendaraan
yang akan memasuki pelataran jam gadang atau arah Pasa Ateh Bukiktinggi
dan areal tersebut hanya diprioritaskan untuk pejalan kaki.
“Memang kita terpaksa melakukan hal ini, karena kalau tidak, sudah
pasti akan terjadi kemacetan yang lebih parah lagi dan sangat susah
untuk diatasi khsusunya di sekitar jam gadang atau pasar atas. Bagi
masyarakat yang membawa kendaraan dan ingin pergi ke pasar atas atau
sekitar Jam Gadang, kita persilahkan parkir di daerah sekitarnya,
seperti di Jalan Yos Sudarso dan Jalan A Yani atau Kampung Cina,”terang
Kapolresta Bukiktinggi AKBP Eko Parasetyo Siswanto yang ditemui
POSMETRO di lapangan ketika turun langsung mengatur lalulintas.
Sepanjang Sabtu (4/10), antrian panjang juga terlihat dari arah
Payakumbuh - Bukiktinggi yang mencapai dua kilometer, namun arus dari
Bukiktinggi ke Payakumbuh masih terlihat lancar. Sehingga untuk
mengatasi kemacetan di dalam Kota Bukiktinggi, bagi kendaraan yang
menuju Padang atau tidak ada keperluan ke Bukiktinggi, di simpang
Tanjung Alam petugas terpaksa melakukan sistim buka tutup untuk arus
lalulintas dan mengarahkan kendaraan untuk melewati jalur alternatif
yaitu daerah Sungai Puar Kabupaten Agam.
“Memang itu kita lakukan, karena kalau memang tidak ada keperluan ke
Bukiktinggi, sebaiknya untuk menghindari kemacetan kita arahkan ke
jalur alternatif yaitu daerah Sungai Puar dan keluar di daerah Koto
Baru Kabupaten Tanah Datar,”terang Kapolresta.
Lakalantas Menurun
Kapolresta Bukiktinggi melalui Kasat Lantas AKP Nasir mengatakan,
berdasarkan data yang diperoleh, untuk kunjungan yang menggunakan
kendaraan ke Bukiktinggi dibandingkan tahun lalu melonjak drastis dan
didiminasin oleh kendaraan roda dua.
“Mengenai angka pastinya belum bisa kita data, namun berdasarkan
pengamatan dan laporan yang kita peroleh jumlah kunjungan ke
Bukiktinggi meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu, ini
menandakan Bukiktinggi masih diminati masyarakat sebagai tujuanwisata.
Dan pengunjung lebih didominasi kendaraan roda dua karena dari
masyarakat sekitar Sumbar, banyaknya yang mudik meggunakan kendaraan
roda dua,”ulas Nasir, Sabtu (4/10) .
Tapi angka kecelakaan lalu lintas (lakalntas) di wilayah hukum
Polresta Bukiktinggi tahun ini dibanding tahun lalu jauh menurun dan
bisa ditekan. Dari tanggal 26 September lalu sampai 4 Oktober jumlah
lakalantas hanya terjadi sebanyak enam kasus dan hanya mengalami luka
ringan sebanyak 18 orang dengan kerugian materil sebesar kurang lebih
Rp 33 juta, yang terjadi lebih banyak pada siang hari yaitu sebanyak
empat kasus dan dua kasus pada malam hari.
Dengan perincian lakalantas
untuk sepeda motor empat unit, pejalan kaki satu orang, mobil penumpang
sebanyak enam unit dan tabrak lari yang menimpa sepeda motor sebanyak
satu kasus. (wan/can/max)
|