|
PADANG, METRO-- Ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
Sofjan Wanandi meminta daerah tidak menganggap ringan krisis keuangan
di AS. Kebijakan pemerintah pusat yang telah diambil untuk
mengantisipasi krisis harus segera disikapi dan dutindaklanjuti oleh
daerah.
“Pemerintah daerah jangan menganggap ringan masalah ini. Krisis ekonomi AS adalah masalah serius. Yang terjadi sekarang lebih besar dari 1997, dunia yang menghadapi ancaman kriri global. Dulu saat 1997, ekonomi AS hanya batuk, efeknya luar biasa bagi ekonomi Indonesia. Jangan sampai Indonesia terkena lagi,” katanya kepada wartawan usai mengikuti silaturahmi dan halal bi halal caleg Partai Golkar se-Sumbar di hotel Bumiminang, Jumat (10/10).
Krisis keuangan di AS bisa merembes pada semua bidang. Akan terjadi perlambatan-perlambatan dalam semua bidang. Ekspor, kredit dan konsumsi masyarakat. Dampak paling berat akan dialami perindustrian Indonesia. Dibandingkan tahun ini, dia memprediksi tahun depan adalah tahun-tahun paling berat bagi dunai Industri tanah air. “Untuk tahun ini mungkin masih aman, tapi tahun depan berbahay sekali,” katanya.
Maka itu dia meminta pemerintah segera melindungi industri nasional, terutama Usaha Kecil dan Menengah. Langkah paling tepat yang mesti diambil pemerintah saat ini adalah mempercepat pencairan anggaran dan pelaksanaan proyek-proyek. Dengan cara itu setidaknya pemerintah membantu gerakn ekonomi, karena akan tersedia lapangan pekerjaan baru untuk rakyat.
Berbeda dengan Sofjan Wanandi, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla tidak terlalu cemas dengan krisis keuangan di AS. Meski terjadi aksi jual saham besar-besaran, menurut Wapres itu dilakukan oleh orang-orang asing. Aksi jual saham itu kesempatan bagi pengusaha pribumi. “Ekonomi kita baik. Jangan terlalu terpengaruh pada suasana. Ekonomi kita berbeda dengan AS. Ekonomi kita lebih didominasi kebutuhan domestik, ketimbang impor,” katanya. Sebelumnya dalam sidang kabinet, Senin (6/10), presiden mengeluarkan 10 langkah menghadapi ancaman krisis global.
Yaitu, terus memupuk rasa optimisme, pertumbuhan ekonomi enam persen harus dipertahankan, optimalkan APBN 2009, dunia usaha diminta tetap mendorong sektor riil agar dapat bergerak, semua pihak diminta lebih kreatif menangkap peluang di masa krisis, galakkan kembali penggunaan produk dalam negeri, perkuat kerjasama lintas sektor antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia perbankan serta sektor swasta, Kemudian semua kalangan diminta menghindari sikap ego sentris, diminta masyarakat memiliki pandangan politik nonpartisan dan mengedepankan kepentingan bersama dan emua pihak diminta melakukan komunikasi yang tepat dan baik pada masyarakat. (nto)
|