|
Fiberglass Serangga |
pdf
|
| cetak |
|
|
Minggu, 12 Oktober 2008 |
|
Berbagai produk fiberglass serangga yang lazim disebut masyarakat
“pengawetan serangga,” tampak berjejer rapi disebuah lapak aksesoris di
Jalan Permindo. Bermacam bentuk dan ukuran Kepiting, bahkan
kalajengking serta serangga lainnya, terlihat sangat indah di dalam
plastik-plastik bening yang dibuat sedemikian rupa.
Lapak itu adalah milik Afrie Reggae (24), sekaligus pembuat fiberglass serangga. Kepada koran ini, ia mengungkapkan peminat fiberglass tak pernah turun. Hal itu didasari dengan selalu ramainya pembeli fiberglass di tempatnya.
“Keinginan masyarakat untuk memiliki aksesoris fiberglass selalu tinggi. Apa lagi jika serangga yang diawetkan termasuk binatang langka,” terang Afrie. Sebagai pengrajin fiberglass, Afrie tentu mengerti bagaimana cara membuat produk yang menarik. Namun itu semua menurut Afrie bermula dari ketidak sengajaan. Afrie yang dulunya tak punya pekerjaan merasa tertarik melihat rumah produksi souvenir di Lembah Harau. “Pada awalnya tidak ada niat untuk menjadi pengrajin fiberglass.
Tapi niat itu berubah setelah saya menyaksikan langsung cara pengolahaan fiberglass di Harau. Tampak mudah dengan biaya yang tak seberapa namun bisa dijual mahal. Tergantung tingginya seni dan langkanya binatang yang “dibalut”,” tambah Afrie. Sepulangnya dari Harau, Afrie berpikir untuk mempraktekan apa yang dilihatnya. Setelah membeli berbagai peralatan. Akhirnya Afrie mulai “berburu” serangga-serangga kecil yang ada di sekitar rumahnya. Serangga pertama yang menjadi objek eksperimen fiberglass Afrie adalah capung jarum.
“Pertama kali saya mengawetkan capung jarum, tapi ternyata susah karena tekstur tubuhnya yang lunak. Saya gagal pertama kali. Tapi belum menyerah, tawonpun saya jadikan ekperimen ke-dua. Ternyata berhasil dengan hasil yang memuaskan. Perburuan saya lanjutkan, ke pantai-pantai hingga bukit putuihpun saya jelajahi untuk mencari binatang yang unik dan menarik. Saya merasa tertantang untuk menjadi pengrajin fiberglass. Dalam mengolahnya kita harus hati-hati. Jangan sampai ada bagian tubuh binatang yang terputus,” ulas Afrie.
Hampir setiap hari Afrie membuat fiberglass, hingga hasilnya hanya menumbuk. Dia belum berani memasarkan hasilnya karena takut dibilang tidak bagus. Namun, lewat saran seorang temannya, Afrie akhirnya mebuka lapak fiberglas dan aksesoris di Permindo. Ternyata sambutuan konsumen cukup baik, terbukti, hampir sekali tiga hari Afrie berburu binatang untuk diawetkan. “Saya selalu berkreasi mencari bentuk baru dan binatang yang unik untuk diawetkan. Saat ini saya ingin mengawetkan ular,” Afrie mengakhiri. (benny okva)
|
|
|
|
|
|
20.11.2008
TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…
20.11.2008 | Metro Padang
M YAMIN, METRO--Sebanyak 830 berkas surat lamaran ditolak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang. Saat proses pemberkasan dan…
|
|