Saat ini ada 1 tamu online
Kreatif, Inovatif, Tapi Miskin Finansial pdf  | cetak |
Selasa, 14 Oktober 2008
Salman : Membudayakan Demokrasi Beradat
“Kadang saya pusing tujuh keliling. Proposal ini sudah makan biaya banyak. Untuk pembuatannya saja, saya harus keluar uang pribadi. Maklum saya buta komputer, eh, kini harus bawa flashdisk kemana-mana!” Salman. Masih muda. Tinggal di Tanjung Berok Siteba, Padang. Ijazah SMA terakhir dikantonginya.
Namun, dahsyatnya, ide-ide serta pemikiran Salman telah mendunia. Makanya tagline hidupnya, “Bertindak lokal, berpikir global”. Pria beranak dua ini sejak empat tahun lalu telah banyak menelorkan ide-ide dan pemikiran. Bidang seni, budaya sampai politik. Sayang, seribu sayang, Salman yang masih muda terbelit situasi klasik harus menghidupi keluarga dengan bekerja sebagai buruh di berbagai tempat yang tersedia pekerjaan baginya.

Ketika ditemui tengah bermenung sendiri di teras rumah kontrakannya yang kecil, mata Salman merah berair. Bukan menangis. Salman sedari malam tidak tidur. Proposal bersampul plastik biru di tangannya dibolak-baliknya. “Sudah tiga orang caleg saya temui, semua masih berjanji-janji,” ungkapnya seperti pasrah. Taman Demokrasi. Itulah judul proposal Salman yang dilabelkan atas Pemuda Pusako Minang. “Seluruhnya, ide saya,” akunya. Salman kemudian membalik lagi proposal itu tanpa membukanya.

Proposal yang bersampul gambar Ka’bah dan rumah adat Minang di bawahnya sepintas lalu tidak menarik hati. Namun, setelah penulis mendengar nama Taman Demokrasi muncul rasa ingin tahu yang tinggi. “Membudayakan Demokrasi Beradat, Politik Beradab di Negeri Bermartabat.” Slogan yang sangat menyentuh ini rasanya baru kali ini kita dengar dan baca. Salman lah yang merancangnya sendiri, sejak empat tahun lalu.

Dalam proposal kegiatan yang dikemas dalam tiga bagian; taman reformasi, taman demokrasi dan taman kreasi ide yang ditawarkan terlihat penuh kejujuran berfikir. Salman merancang ide bahwa konsep badunsanak (bersaudara) yang selama ini dipakai dalam pesta demokrasi masih kerdil pengertiannya. “Saya mungkin lebih spektakuler berpikir. Demokrasi yang beradat yang ingin kami tonjolkan. Demokrasi yang dilandasi kekuatan adat basandi syarak. Sehingganya, seluruh masyarakat dapat menjalankan demokrasi dalam kedamaian dan rasa persaudaraan sesama,” ungkapnya mulai cerah kembali.

Taman Demokrasi

Ide murni Salman, sebuah ruang luar yang cukup lapang. Diisi dengan berbagai tampilan dan galeri demokrasi berupa baliho, spanduk serta stiker partai-partai dan caleg yang kini bertarung di arena Pemilu 2009. Keramaian benda ini akan diramaikan pula oleh masyarakat yang datang dengan tarikan budaya demokrasi beradab lewat politik beradab di negeri yang bermartabat ini.

Bangsa ini rasanya perlu berterima kasih kepada Salman. Meski kecil, bukan siapa-siapa atau malah mengkerdilkan kemampuannya tanpa dorongan dan memandang remeh, ternyata Salman punya segudang ide brillian yang tentunya tidak sama dengan para sarjana yang penuh teori. “Hidup ini realita. Jelas dan tegas.

Usaha untuk hidup wajib, namun kreatifitas juga utama dilakukan,” ungkapnya berfilosofi. Taman demokrasi yang diurai Salman kepada penulis secara ringkas terbayangkan keramaian pengunjung dengan minat tinggi menyaksikan ramainya atribut yang memenuhi studio lapangan. Salman akan berdiri dengan bangga di tepi lapangan sembari memberikan kode kecil agar pentas musik taman kreatif mulai.

Sementara, visi dan misi politik dapat diambil dengan mudah oleh pengunjung di pustaka demokrasi. Ide dan bayangan Salman kembali mengambang. “Saya masih punya dua ide besar lagi lanjutan Taman Demokrasi ini. Tapi sabarlah, biar satu-satu kita kerjakan. Kalau ini berhasil saya akan beberkan yang kedua dan ketiga nantinya,” ujar Salman meyakinkan.

Segelas teh manis dan air putih kemudian terhidang. Salman lebih memilih air putih. “Masih mengantuk,” Salman. Niat hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Ide Salman sangat menarik untuk dilakukan. Kesungguhannya tidak disangsikan. Kendala biaya kini menghadangnya. Sponsor yang serius pun sangat jarang ditemui. Apakah kita akan menunggu, atau membantunya? Terserah Anda! (***)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

peristiwa.gif

Kondisi Jalan di Tuapejat Memprihatinkan

20.11.2008

TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

BKD Tolak 830 Lamaran CPNS

20.11.2008 | Metro Padang

M YAMIN, METRO--Sebanyak 830 berkas surat lamaran ditolak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang. Saat proses pemberkasan dan…



advert-4.jpg

indosat.gif