|
KOTO BARU, METRO--Turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM)
disikapi dingin masyarakat. Tidak seperti kenaikan harga BBM yang
selalu mengundang berbagai reaksi termasuk terjadinya antrian panjang
di SPBU oleh kendaraan bermotor. Seperti terlihat di SPBU Koto Baru,
Baypass. Kedua SPBU itu terlihat normal-normal saja.
Banyak masyarakat berharap turunnya harga BBM ini juga bisa berpengaruh terhadap berbagai kebutuhan hidup termasuk ongkos transportasi yang telah keburu naik. Jhon Klene, sopir Angkot jurusan Solok-Sawah Sudut, Selayo, tarif Angkot masih ditariknya seperti besar tarif sebelumnya sebesar Rp 3000. Sejauh ini menurut Jhon belum ada pemberitahuan atau keharusan menurunkan tarif Angkot menyusul turunnya harga BBM.
Namun menurutnya, akan sulit menurunkan tarif karena turunnya harga BBM hanya sebesar Rp 500. Turunnya harga BBM terutama jenis bensin sepertinya tidak akan berdampak pada ongkos transportasi. Sebab harga suku cadang masih tetap tinggi. “Bara ka diturunkan ongkos ko pak, samantaro turun harago bensin hanya lima ratus perak” ujarnya. (e)
Turunnya Harga Premium Reaksi Berantai yang Positif
PADANG, METRO--Turunnya harga premium dari Rp. 6.000 menjadi Rp5.500 per 1 Desember, berdampak positif bagi banyak pihak. Hal ini dikatakan pengamat ekonomi sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang, Syamsul Amar, kemarin. “Yang pasti akan menimbulkan reaksi berantai yang positif bagi masyarakat banyak,” ujarnya.
Katanya turunnya harga bensin, secara otomatis pengeluaran masyarakat juga akan turun. Masyarakat yang sebelumnya harus mengeluarkan biaya tinggi untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka akan bahan bakar, kini dapat bernafas lega dan dapat menyimpan uang mereka untuk keperluan lain.
“Uang yang berlebih tersebut bisa dipakai untuk membeli kebutuhan lain, sehingga nilai jual produk lain ke depannya akan meningkat. Ini tentu saja baik dari segi perkembangan usaha, karena produk-produk yang biasanya tidak terbeli akibat masyarakat harus menyisihkan uangnya untuk bensin, sekarang dapat dijangkau,” ujar Syamsul.
Selain itu, turunnya harga premium juga bagus bagi pertumbuhan usaha Unit Usaha Kecil (UKM). “UKM yang biasanya harus mengeluarkan uang ekstra untuk biaya produksi karena harga BBM yang tinggi, sekarang bisa berhemat. Ini nantinya juga akan berdampak positif pada harga barang hasil produksi. Mereka bisa menjual dengan harga yang lebih murah karena biaya produksi yang turun,” ujar Syamsul.
Sementara Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta Syafrizal Chan menyatakan, penurunan premium tidak akan berimbas negatif pada pengecer minyak. ”Penurunan harga premium kan sudah diumumkan sejak lama. Saya rasa para pengecer juga tidak akan mau memborong bensin dalam jumlah banyak, karena mereka adalah pelaku usaha. Biasanya para pelaku usaha lebih kritis dan mengetahui perkembangan situasi terbaru,” ujarnya.
Katanya, dampak positif juga akan dirasakan masyarakat luas. Karena konsumen terbesar premium adalah mereka yang mempunyai kendaraan pribadi. Dengan turunnya harga premium, mobilitas warga yang sering berpergian juga akan tertolong.” Biasanya orang malas untuk melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan kendaraan pribadi karena BBM mahal. Sekarang dengan adanya penurunan harga, masyarakat akan sedikit terbantu,” lanjutnya. (rpg)
|