Bensin Turun, Tak Ngaruh Kok pdf  | cetak |
Rabu, 03 Desember 2008
PASCAPENURUNAN harga bensin yang diturunkan dengan harga sapadi (sedikit-red) yakni Rp 500, banyak pihak menilainya percuma dan tidak berpengaruh, berikut, beberapa pendapat dari berbagai kalangan kami rangkum.
Sambil mempersiapkan perlengkapan berjualannya, Rosna (60) lebih berharap pemerintah menurunkan harga minyak tanah, ketimbang menurunkan premium atau solar. Dengan turunnya harga minyak tanah, penjual goreng-gorengan ini berharap mendapat untung lebih banyak.

“Ambo manggaleh banyak mamakai minyak tanah, kami urang ketek ko paralu minyak tanah yang murah,” ujar nenek 6 orang cucu ini. Saat ditanya tentang harga premium yang turun, ternyata Rosna tidak terlalu peduli. Karena, keluarganya tidak mengonsumsi bahan bakar jenis itu.

Hal serupa, juga diungkapkan pengecer minyak tanah di kawasan Pasar Raya. Pedagang yang tidak bersedia disebutkan namanya ini mengaku, tidak terlalu terpengaruh dengan kebijakan tersebut.

Menurutnya, banyak warga yang menanyakan kenapa minyak tanah tidak turun karena masih tingginya penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk keperluan sehari-hari.

Sekarang, harga minyak tanah berkisar Rp 3.500 hingga Rp 3.600 per liternya. Harga sebanyak itu dinilai masih memberatkan warga yang kebanyakan berasal dari golongan menengah ke bawah.

Lain lagi dengan Eri (37), seorang tukang ojek yang mangkal di kawasan Pasar Raya mengaku tidak mengalami peningkatan pendapatan, dengan penurunan harga bensin. Pendapatan Rp 50 ribu perhari dengan tanggungan sebanyak empat orang membuatnya harus putar otak setiap hari dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Sementara, bagi Ratna (49), seorang penjual bensin eceran di kawasan Jati Adabiah mengaku, penjualannya tidak terpengaruh naik turunnya harga BBM. “Naiak atau turun BBM, panjualan tatap 3 jerigen bensin sa hari,”katanya.

Di kios sederhana miliknya itu, Ratna menjual bensin dengan harga Rp 6 ribu hingga Rp 6.500 per liter. Ibu tiga orang anak ini juga mengaku tidak kesulitan untuk mendapat pasokan bensin saat penurunan harga, ia biasa mendapatkan pasokan premium dari SPBU Wowo dan Padang Baru.

Soal tarif, lain lagi ceritanya, agen travel liar jurusan Padang Bukiktinggi, Abdi (38) mengatakan, meskipun pemerintah telah menurunkan harga BBM, namun tarif ongkos masih seperti biasa. Pascakenaikan bensin tarif Padang-Bukiktinggi yang sebelumnya Rp 18 ribu tidak berubah.

“Meskipun pemerintah akan menetapkan tarif baru, kami tidak akan menurunkan tarif ongkos angkutan kalau harga turunnya cuma lima ratus perak per liter,” tukasnya.

Amiruddin (41), seorang sopir jurusan Pasar Raya-Kampuang Kalawi tak mau kalah pula, laki-laki ini dengan tegas berucap, “Kami hanya seorang sopir. Jangankan untuk menurun tarif, untuk setoran saja belum tentu bisa tertutupi,” ujarnya.

Lantas bagaimana dengan pedagang kaki lima. Nah, kami juga menjumpai seorang PKL, namanya Martius (43) yang mangkal di depan Minang Plaza. “Sebagai masyarakat biasa, kami sangat mengharapkan pemerintah untuk lebih mempertimbangkan penurunan harga bensin ini. Sebab, dengan menurunkan harga cuma sebesar Rp 500, saya rasa belum membantu masyarakat dalam menstabilkan perekonomian,” ketusnya.(Sri Wahyeni & Ervin Hasibuan)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Dukun Gandakan Uang di Kantor Partai Demokrat, Pengurus DPD Kaget Didatangi Polisi Jambi

06.01.2009

BATAM, METRO--Gudang logistik Kantor DPD Demokrat Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ternyata dijadikan ketuanya Abdul Azis yang menjadi tahanan…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Polisi Tidur Rentan Bahaya

07.01.2009 | Metro Padang

SAWAHAN, METRO--Keberadaan polisi tidur (portal jalan) yang tidak sesuai ketentuan yang berlaku membuat prihatin anggota legislatif Kota Padang.…



advert-4.jpg

indosat.gif