|
PASCAPENURUNAN harga bensin yang diturunkan dengan harga sapadi (sedikit-red) yakni Rp 500, banyak pihak menilainya percuma dan tidak berpengaruh, berikut, beberapa pendapat dari berbagai kalangan kami rangkum.
Sambil mempersiapkan perlengkapan berjualannya, Rosna (60) lebih
berharap pemerintah menurunkan harga minyak tanah, ketimbang menurunkan
premium atau solar. Dengan turunnya harga minyak tanah, penjual
goreng-gorengan ini berharap mendapat untung lebih banyak.
“Ambo manggaleh banyak mamakai minyak tanah, kami urang ketek ko paralu minyak tanah yang murah,” ujar nenek 6 orang cucu ini. Saat ditanya tentang harga premium yang turun, ternyata Rosna tidak
terlalu peduli. Karena, keluarganya tidak mengonsumsi bahan bakar jenis
itu.
Hal serupa, juga diungkapkan pengecer minyak tanah di kawasan Pasar
Raya. Pedagang yang tidak bersedia disebutkan namanya ini mengaku,
tidak terlalu terpengaruh dengan kebijakan tersebut.
Menurutnya, banyak warga yang menanyakan kenapa minyak tanah tidak
turun karena masih tingginya penggunaan minyak tanah sebagai bahan
bakar untuk keperluan sehari-hari.
Sekarang, harga minyak tanah berkisar Rp 3.500 hingga Rp 3.600 per
liternya. Harga sebanyak itu dinilai masih memberatkan warga yang
kebanyakan berasal dari golongan menengah ke bawah.
Lain lagi dengan Eri (37), seorang tukang ojek yang mangkal di kawasan
Pasar Raya mengaku tidak mengalami peningkatan pendapatan, dengan
penurunan harga bensin. Pendapatan Rp 50 ribu perhari dengan tanggungan
sebanyak empat orang membuatnya harus putar otak setiap hari dalam
memenuhi kebutuhan hidup.
Sementara, bagi Ratna (49), seorang penjual bensin eceran di kawasan
Jati Adabiah mengaku, penjualannya tidak terpengaruh naik turunnya
harga BBM. “Naiak atau turun BBM, panjualan tatap 3 jerigen bensin sa
hari,”katanya.
Di kios sederhana miliknya itu, Ratna menjual bensin dengan harga Rp 6
ribu hingga Rp 6.500 per liter. Ibu tiga orang anak ini juga mengaku
tidak kesulitan untuk mendapat pasokan bensin saat penurunan harga, ia
biasa mendapatkan pasokan premium dari SPBU Wowo dan Padang Baru.
Soal tarif, lain lagi ceritanya, agen travel liar jurusan Padang
Bukiktinggi, Abdi (38) mengatakan, meskipun pemerintah telah menurunkan
harga BBM, namun tarif ongkos masih seperti biasa. Pascakenaikan bensin
tarif Padang-Bukiktinggi yang sebelumnya Rp 18 ribu tidak berubah.
“Meskipun pemerintah akan menetapkan tarif baru, kami tidak akan
menurunkan tarif ongkos angkutan kalau harga turunnya cuma lima ratus
perak per liter,” tukasnya.
Amiruddin (41), seorang sopir jurusan Pasar Raya-Kampuang Kalawi tak
mau kalah pula, laki-laki ini dengan tegas berucap, “Kami hanya seorang
sopir. Jangankan untuk menurun tarif, untuk setoran saja belum tentu
bisa tertutupi,” ujarnya.
Lantas bagaimana dengan pedagang kaki lima. Nah, kami juga menjumpai
seorang PKL, namanya Martius (43) yang mangkal di depan Minang Plaza.
“Sebagai masyarakat biasa, kami sangat mengharapkan pemerintah untuk
lebih mempertimbangkan penurunan harga bensin ini. Sebab, dengan
menurunkan harga cuma sebesar Rp 500, saya rasa belum membantu
masyarakat dalam menstabilkan perekonomian,” ketusnya.(Sri Wahyeni
& Ervin Hasibuan)
|