Disability Day “Hanyalah Peringatan Klise” pdf  | cetak |
Rabu, 03 Desember 2008
BERKACA mata hitam plus tongkat kayu, Wahad (41) tampak menyusuri Jalan Veteran. Panti pijat yang merangkap rumahnya adalah tujuan langkahnya yang lambat. Sejenak dia mengaso dan meraba jalan menggunakan ujung tongkatnya.
Wajahnya bersih dengan sebaris kumis yang telah mulai putih. Dia terus berjalan. Membuka kunci pintu dan masuk ke ruangan yang besarnya cuma sekitar 7x6 meter. Hanya sebuah tikar usang menghiasi ruangan berbau minyak urut tersebut. Itulah harta paling berharga yang dimiliki Wahad. enam Tahun menjadi tukang pijat, tak banyak uang yang didapatkannya. Wahad buta sejak lahir.

Saat ditanyakan tentang Hari Cacat Sedunia yang diperingati setiap 3 Desember, ternyata Wahab tidak tahu. Jawaban nyeleneh keluar dari mulutnya. “Saya tidak tahu kalau besok (hari ini-red) adalah hari peringatan bagi kaum cacat. Setahu saya, tidak pernah ada yang menghargai hari tersebut,” celoteh Wahab duduk ditikar bercorak zig-zag, Selasa (2/12).

Orang yang menyantuni orang cacat, jelas Wahab, sepertinya juga tidak ada. “Hari cacat hanyalah peringatan klise di tanah air ini,” tukas Wahab yang selalu duduk di tikar tersebut, sembari menunggu pasien yang entah kapan datangnya.

Sementara, Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sumbar Icun Sulhadi menegaskan, diskriminasi adalah kata yang kental melekat pada kaum penyandang cacat. “Entah mengapa orang selalu memandang rendah kaum kami. Diskriminasi begitu kental tersemat. Mungkin itu semua sudah menjadi budaya. Tidak hanya masyarakat sipil, pemerintah seolah berpaling dengan nasib kami,” terangnya kepada POSMETRO.

Pemerintah seharusnya lebih membuka diri dan memperhatikan kaum cacat. Kekurangan yang kami miliki jangan dijadikan alasan,” tambahnya.

Menurut Icun, setiap Hari Cacat se dunia datang, kaum cacat tidak pernah bisa merasakan langsung arti hari itu. Tidak ada penghargaan, juga tidak ada santunan yang diterima para penyandang cacat. Nasib mereka masih terbelakang. Walaupun memiliki keahlian dalam sesuatu bidang, kecacatan mereka membuat orang enggan untuk mempekerjakan. Lanjut Icun, itu semua menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

“Pemerintah seharusnya turut andil mengembalikan marwah kaum cacat. Terutama disegi pekerjaan. Banyak mereka yang menyandang cacat tapi memiliki keahlian lebih. Namun kenapa disia-siakan?. Beri kami peluang untuk merubah hidup,”pinta Icun berharap.

Icun berharap Pemerintah tidak hanya mengeluarkan Undang Undang ataupun ketetapan untuk kaum penyandang cacat. Tapi coba wujudkan dan buktikan kepada dunia bahwa para penyandang cacat di Sumbar benar-benar mampu memperoleh hak asasi mereka sama seperti manusia-manusia lainnya. Jangan berpura-pura berbuat baik dengan Perda-perda yang memuat butir-butir tentang penyandang cacat yang tujuannya adalah kesempatan eksis pada ajang lima tahunan.

Memang, hari ini, segenap warga dunia memperingati hari cacat sedunia atau Disability Day. Pada hari itu kita diminta untuk merenungi sejenak tentang kehidupan sehari-hari yang kita lalui. Sejauh mana kita terlibat dalam membantu para penyandang cacat sekeliling kita. Apakah kita telah berlaku adil kepada mereka? Apakah kita hanya berhasil melihat kecacatan dari mereka yang tuna netra saja? Lalu kalau kita gagal melihat kecacatan dengan mata kita, siapakah sebenarnya yang buta?(*)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Dukun Gandakan Uang di Kantor Partai Demokrat, Pengurus DPD Kaget Didatangi Polisi Jambi

06.01.2009

BATAM, METRO--Gudang logistik Kantor DPD Demokrat Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ternyata dijadikan ketuanya Abdul Azis yang menjadi tahanan…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Polisi Tidur Rentan Bahaya

07.01.2009 | Metro Padang

SAWAHAN, METRO--Keberadaan polisi tidur (portal jalan) yang tidak sesuai ketentuan yang berlaku membuat prihatin anggota legislatif Kota Padang.…



advert-4.jpg

indosat.gif