|
BERKACA mata hitam plus tongkat kayu, Wahad (41) tampak menyusuri Jalan Veteran. Panti pijat yang merangkap rumahnya adalah tujuan langkahnya yang lambat. Sejenak dia mengaso dan meraba jalan menggunakan ujung tongkatnya.
Wajahnya bersih dengan sebaris kumis yang telah mulai putih. Dia terus
berjalan. Membuka kunci pintu dan masuk ke ruangan yang besarnya cuma
sekitar 7x6 meter. Hanya sebuah tikar usang menghiasi ruangan berbau
minyak urut tersebut. Itulah harta paling berharga yang dimiliki Wahad.
enam Tahun menjadi tukang pijat, tak banyak uang yang didapatkannya.
Wahad buta sejak lahir.
Saat ditanyakan tentang Hari Cacat Sedunia yang diperingati setiap 3
Desember, ternyata Wahab tidak tahu. Jawaban nyeleneh keluar dari
mulutnya. “Saya tidak tahu kalau besok (hari ini-red) adalah hari
peringatan bagi kaum cacat. Setahu saya, tidak pernah ada yang
menghargai hari tersebut,” celoteh Wahab duduk ditikar bercorak
zig-zag, Selasa (2/12).
Orang yang menyantuni orang cacat, jelas Wahab, sepertinya juga tidak
ada. “Hari cacat hanyalah peringatan klise di tanah air ini,” tukas
Wahab yang selalu duduk di tikar tersebut, sembari menunggu pasien yang
entah kapan datangnya.
Sementara, Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sumbar Icun
Sulhadi menegaskan, diskriminasi adalah kata yang kental melekat pada
kaum penyandang cacat. “Entah mengapa orang selalu memandang rendah
kaum kami. Diskriminasi begitu kental tersemat. Mungkin itu semua sudah
menjadi budaya. Tidak hanya masyarakat sipil, pemerintah seolah
berpaling dengan nasib kami,” terangnya kepada POSMETRO.
Pemerintah seharusnya lebih membuka diri dan memperhatikan kaum cacat.
Kekurangan yang kami miliki jangan dijadikan alasan,” tambahnya.
Menurut Icun, setiap Hari Cacat se dunia datang, kaum cacat tidak
pernah bisa merasakan langsung arti hari itu. Tidak ada penghargaan,
juga tidak ada santunan yang diterima para penyandang cacat. Nasib
mereka masih terbelakang. Walaupun memiliki keahlian dalam sesuatu
bidang, kecacatan mereka membuat orang enggan untuk mempekerjakan.
Lanjut Icun, itu semua menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
“Pemerintah seharusnya turut andil mengembalikan marwah kaum cacat.
Terutama disegi pekerjaan. Banyak mereka yang menyandang cacat tapi
memiliki keahlian lebih. Namun kenapa disia-siakan?. Beri kami peluang
untuk merubah hidup,”pinta Icun berharap.
Icun berharap Pemerintah tidak hanya mengeluarkan Undang Undang ataupun
ketetapan untuk kaum penyandang cacat. Tapi coba wujudkan dan buktikan
kepada dunia bahwa para penyandang cacat di Sumbar benar-benar mampu
memperoleh hak asasi mereka sama seperti manusia-manusia lainnya.
Jangan berpura-pura berbuat baik dengan Perda-perda yang memuat
butir-butir tentang penyandang cacat yang tujuannya adalah kesempatan
eksis pada ajang lima tahunan.
Memang, hari ini, segenap warga dunia memperingati hari cacat sedunia
atau Disability Day. Pada hari itu kita diminta untuk merenungi sejenak
tentang kehidupan sehari-hari yang kita lalui. Sejauh mana kita
terlibat dalam membantu para penyandang cacat sekeliling kita. Apakah
kita telah berlaku adil kepada mereka? Apakah kita hanya berhasil
melihat kecacatan dari mereka yang tuna netra saja? Lalu kalau kita
gagal melihat kecacatan dengan mata kita, siapakah sebenarnya yang
buta?(*)
|