|
KEBERADAAN Unit Pelayanan Terpadu Balai Latihan Kerja (UPT BLK) belum termanfaatkan secara penuh. Terlebih oleh masyarakat luar Kota Padang. Terbukti, selama tahun anggaran 2008, belum ada satu pun masyarakat atau kelompok kerja luar Kota Padang yang melakukan pelatihan. Jadilah BLK hanya sebagai tempat latihan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Kepala UPT BLK Drs Syafrudin Abbas melalui Kasi Diklat Masdi Zais SPd
mengatakan, hingga hari ini, Selasa (2/12), yang selalu eksis melakukan
pelatihan di BLK adalah siswa SMK. Dua SMK yakni SMKN 1 Padang dan SMKN
8 Padang adalah dua sekolah yang selalu mengirimkan siswanya ke BLK.
Dari kalangan umum, hanya ada Sanggar Kegiatan Belajar Padang yang
sedang melakukan pelatihan elektronika dasar.
“Masyarakat belum memanfaatkan penuh, padahal BLK bukan untuk warga
Kota Padang saja, tapi semua elemen masyarakat di Sumbar. Dalam
pelatihan kita memang mengutamakan pelajar SMK, tapi itu tidak menutup
kemungkinan masyarakat umum untuk belajar. Bagi sekolah swasta, kami
juga membuka diri, tidak ada kasta dalam memberikan pelatihan,” kata
Masdi Zais kepada POSMETRO di ruang kerjanya, Selasa (2/12).
Berdiri di atas lahan seluas 4,5 hektare, BLK mempunyai lima ruangan
pelatihan. Ruang pelatihan elektronik, bangunan, mesin listrik, mesin
dan otomotif adalah tempat yang disediakan bagi masyarakat umum dan
pelajar yang ingin memperdalam ilmu. Khusus masyarakat umum, BLK
membebankan biaya makan guru. BLK juga menyediakan 70 tenaga guru
handal untuk mengasah otak bagi peserta pelatihan.
“Kita memiliki lima jurusan yang terbagi dalam lima ruang. Di dalam
ruangan itu tersedia berbagai alat lengkap untuk pelatihan. Kita
memberikan subsidi pemakaian perlengkapan pelatihan. Kenapa semua ini
tidak dipergunakan dengan baik?” tanya Masdi Zais.
Sebagai unit yang bertujuan mencerdaskan bangsa, BLK dituntut bisa
mencetak tenaga handal yang sudah ditentukan. Sekarang, tinggal sikap
masyarakat saja. “Pergunakan BLK untuk menimba keahlian. Buat apa
berebutan menjadi orang gajian, kalau kita memiliki skill untuk menjadi
pemimpin. Jadi orang gajian, walau berstatus pegawai belum tentu
senang. Lebih baik mandiri. Kita merdeka dengan diri sendiri,” ulas
Zais. (o)
|