|
DERU mesin ketam perata terdengar memekakkan telinga. Tidak hanya dalam ruang jurusan saja suara itu terdengar, suaranya menggema di areal Balai Latihan Kerja (BLK) Sumbar yang luasnya sekitar 4,5 Ha. Tiga orang yang sedang melakukan pelatihan terlihat teliti mencocokkan garis ketaman, menjelang memasukannya ke dalam mesin. Ampas ketam menyebar ke penjuru ruangan.
Ibarat Kapal pecah. Begitulah suasana yang tergambar ketika memasuki
ruang bangunan BLK. Belasan mesin untuk menunjang pelatihan terlihat
memenuhi bangunan persegi panjang, yang dijadikan tempat mengadakan
pelatihan bagi masyarakat yang ingin mendalami teori pertukangan itu.
Tingginya mesin hampir 2 meter. Ada mesin perata, bor ketam, gergaji
pita dan gergaji pemotong yang mempunyai gigi tajam. Tak terbayangkan
jika tangan yang masuk ke dalam mesin itu.
Umumnya mesin bermerek Harwi made in Belanda. Setiap mesin tertera
tulisan inventarisasi BMN, pertanda mesin itu berasal dari dana
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Di sudut ruangan, sebuah
mesin gergaji pita terlihat sudah berkarat. “Mesin itu rusak. Sudah
lama tidak diperbaiki,”celoteh salah seorang peserta pelatihan yang
tampak asyik bekerja.
Kasi Diklat BLT Masdi Zais Spd mengatakan, mereka adalah orang-orang
yang melaksanakan pelatihan. Peserta diberikan ilmu hingga benar-benar
mengerti dengan apa yang dipelajari. “Kita tidak main-main mencetak
tenaga handal. Bagaimanapun juga, yang mengikuti pelatihan ini pasti
orang-orang yang ingin merubah hidup dan ingin berusaha sendiri. Apa
salahnya ditolong,” katanya sembari memberikan sedikit arahan kepada
“muridnya”.
Salah seorang peserta pelatihan Hen (34) menyatakan, ikut pelatihan
karena ingin bekerja sendiri tanpa diperintah orang lain. “Tak enak
rasanya bekerja di bawah tekanan. Walaupun menjadi PNS sekaligus, saya
tidak berminat. Lebih baik menjadi tukang. Walau gajinya tidak
seberapa, tapi kita tidak diperintah,” jelas Hen.
Suasana makin bising, ketika Pak Rul (51) menghidupkan mesin gergaji
pita. Mata rantai tajam gergaji bergerak, membelah kayu. Gayanya persis
seperti orang yang sudah mahir, kendati masih dalam tahap latihan.
Selama ini Pak Rul memang bekerja sebagai tukang, namun dia masih ingin
menambah ilmunya. Pelatihan itu pun diikuti.
“Banyak yang saya dapatkan dari latihan ini. Guru yang mengajar
benar-benar memberikan ilmu. Walaupun membayar, tapi itu tidak seberapa
dengan ilmu yang saya dapat,” ujar Pak Rul.(o)
|