|
PADANG, METRO-- Sudah menjadi rahasia umum, para pekerja dari Pulau Jawa mendominasi kebutuhan tenaga kerja proyek pembangunan di Sumbar dari tahun ke tahun. Bahkan, untuk proyek-proyek kelas “teri” sekalipun, tenaga kerja asli Sumbar masih kalah bersaing dengan tenaga kerja “impor” itu. Apalagi untuk kebutuhan pekerja pada pembangunan proyek-proyek besar dari dana APBD ataupun APBD Provinsi.
Meski hasil dari pekerjaan itu--baik berupa bangunan gedung, irigasi,
jalan dan lainnya-- tertinggal dan dimanfaatkan di Sumbar, tapi biaya
pengerjaan akan menguap ke Pulau Jawa. Andaikan seorang pekerja
mendapatkan gaji Rp 1-1,5 juta per bulan saja, sekitar 80 persennya
akan dikirim kepada keluarga mereka di tempat asal, berapa dana yang
hilang? Sementara, warga Sumbar hanyalah penyedia makan dan minum para
tukang di beberapa proyek.
Dalam beberapa kegiatannya, Gubernur Sumbar H Gamawan Fauzi SH MM masih
optimis akan terjadi pertumbuhan ekonomi (PE) sebesar 6,4 persen di
Sumbar. “Kondisi ini akan mustahil tercapai, ketika Sumbar belum mampu
menjadi tuan rumah di negeri sendiri untuk mengerjakan proyek-proyek
APBN dan APBD. Kita hanya akan menjadi penikmat semu saja,” kata Ketua
Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sumbar Asnawi Bahar.
Imbas dari kondisi ini adalah, masyarakat Sumbar tidak akan mampu
mendapatkan pendapatan yang layak dan tetap menjadi miskin. Kalah
saingnya mereka (tenaga kerja-red) itu, membuat tingkat pengangguran
semakin tinggi. Tidak salah kiranya, kalau 68.680 anak muda Sumbar
saling berebut menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang hanya
menyediakan 5976 formasi di 19 kab/kota itu.
Ekonom Universitas Andalas (Unand) Prof Dr Elfindri menilai, hal ini
karena kultur turunan yang mengakar di Sumbar. Di samping kalah
bersaing mendapatkan pekerjaan itu. Katanya, pekerja Sumbar sebetulnya
tidak kalah bersaing dengan para pekerja Jawa, kalau diberikan
kesempatan yang sama. Tapi, budaya kerja yang masih memilih-milih masih
mendominasi anak-anak muda dari berbagai tingkatan pendidikan itu.
Upah yang ditawarkan oleh para kontraktor, lanjutnya, belum menjadi
satu hal yang menarik perhatian bagi tenaga kerja Sumbar yang memiliki
karakter yang aneh. Berbeda dengan Orang Jawa yang rela dibayar murah
dan masih sempat mengirimkan uang hasil kerjanya kepada keluarga
masing-masing. “Jadi, sangat sulit mengharapkan tenaga kerja Sumbar
membantu peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan memasukkan mereka
sebagai pekerja di proyek,” lanjutnya.
Balai Latihan Kerja atau BLK, kata Koordinator Perguruan Tinggi Swasta
(Kopertis) Wilayah X Sumbar, Riau, Riau kepulauan dan Jambi, belum
memberikan jaminan yang jelas untuk mengatasi kemiskinan. “Jumlah
pengangguran ini terlalu banyak. Tidak akan ada lapangan kerja yang
menampung mereka. Jadi, BLK hanyalah sebagian solusi saja,” kata
Elfindri.
Elfindri mengharapkan pemerintah daerah (provinsi dan kab/kota) terus
melakukan pendataan terhadap tenaga kerja dan melakukan klasifikasi
keahlian masing-masing. Bagi yang tidak memiliki keahlian khusus harus
diberikan pembinaan yang konkrit dengan solusi juga memberikan tempat
magang untuk mempraktekkan keahlian itu.
“Percuma mendidik, kalau tidak ada tempat untuk mereka bersentuhan
lansung dengan lokasi kerja yang sesuai. Setelah magang, harusnya para
tenaga kerja itu juga diberikan sertifikasi dan disalurkan ke
lokasi-lokasi penampungan tenaga mereka,” kata Elfindri yang telah
berkali-kali memberikan masukan ini kepada pemerintah.
Tapi, dia mengakui, sangat sulit melakukan perubahan terhadap budaya
malas yang masih menghinggapi tenaga kerja. Menurutnya, hal itu adalah
produk peradaban yang diciptakan oleh pembangunan selama ini. “Dalam
kondisi krisis ini, seharusnya orang muda tidak lagi memilih-milih
pekerjaan,” pungkasnya.
Terakhir, Elfindri masih menginginkan pemerintah melakukan perbaikan
terhadap pendidikan. Cobalah mengubah mind set (cara pandang-red) para
pemuda Sumbar untuk dapat bekerja tidak lagi ingin enak dan mendapatkan
bayaran tinggi saja. “Kalau ini sudah diubah, tentu pertumbuhan ekonomi
akan dapat dicapai sesuai dengan target,” kata Elfindri. (rvi)
|