|
ULAK KARANG, METRO--Menjelang pelaksanaan Hari Raya Idul Adha
yang jatuh Senin (8/12) depan, seluruh masjid di Kota Padang sudah
terlihat mempersiapkan. Bahkan sejak beberapa bulan lalu, peserta
kurban sudah bisa mendaftar.
Seperti yang dilakuan masjid Babusalam Ulak Karang, masjid ini telah mempersiapkan peserta kurban, Drs H Imran, ketua pengurus masjid ini menyebutkan, untuk satu kelompok peserta kurban terdiri dari 7 orang. Setiap peserta dipungut iuran sebesar Rp 950 ribu.
“Satu ekor sapi dengan berat sekitar 60 kg saat ini bisa dibeli dengan harga Rp 6,4 juta. Sisa dari iuran perkelompok akan digunakan untuk biaya operasional,” ungkapnya kepada koran ini yang membeli hewan kurban di daerah Pasa Usang.
“Kebijakan ini dilakukan untuk mendapatkan sapi kurban yang lebih bagus. Sebab, pengalaman sebelumnya ketika pembelian hewan kurban dilakukan 2 hari menjelang Hari Raya Idul Adha, panitia memperoleh sapi yang kecil. Padahal dagingnya akan kita berikan kepada masyarakat sekitar masjid,” jelasnya.
Dihubungi terpisah, Ilih, seorang pengusaha ternak sapi kurban di kawasan Lubuak Minturun mengaku telah menjual sedikitnya 40 ekor sapi kurban menjelang Idul Adha 1429 Hijriah ini. Penjualan sapi miliknya sama dengan pencapaian penjualan pada tahun yang lalu dan hewan kurban yang dijual terjamin kesehatannya karena telah lolos dari pemeriksaan tim dari Dinas Perternakan Pertanian dan Kehutanan (Dispernakhut) Padang.
“Apabila ada sapi yang sakit seperti gelisah (jawi gilo, red), tidak mau makan dan lainnya, saya akan segera menghubungi pemerintah untuk melakukan pemeriksaan,” ungkap Ilih yang mengaku telah 23 tahun berbisnis hewan kurban.
Diperiksa
Sementara, kepada POSMETRO Kepala Dinas Dispernakhut Kota Padang Ir Asnel MSi menjelaskan, hewan kurban akan dilakukan pemeriksaan kesehatannya. Untuk itu, telah dibentuk tim yang terdiri dari dokter hewan dan tim medis hewan.
“Tim ini telah terjun ke lapangan. Sampai sekarang, belum ada ditemukan hewan kurban yang berpenyakit,” jelasnya.
Pemeriksaan terhadap penyakit hewan kurban, jelasnya, yang dilihat meliputi, penyakit menular seperti antraks, pemeriksaan terhadap mulut dan kuku serta mata, kaki, telinga, hidung dan organ sapi lainnya. “Kita tidak mengeluarkan sertifikasi terhadap hewan kurban yang telah diperiksa,” tegasnya.
Setiap hewan kurban yang akan diperiksa kemudian diberi surat keterangan sehat. Pengawasan juga dilakukan dengan memeriksa hewan kurban sebelum dan sesudah dipotong. Selain itu, hewan yang dijadikan kurban merupakan sapi yang tidak cacat, tidak kurus dan sehat. Biasanya, sapi kurban di tempat penampungan akan dibeli oleh atau sudah dipesan jauh hari oleh pengurus masjid. “Panitia kurban sudah tahu mana sapi yang sehat dan yang tidak sehat. Kita mengimbau sebelum sapi dibawa ke masjid minta dulu surat keterangan sehatnya,” kata Asnel.
Sebanyak 15 tim kesehatan hewan yang terdiri dari dokter hewan dan petugas lapangan untuk mengecek kesehatan hewan ini. Tidak hanya itu, di tingkat kecamatan juga ada petugas kesehatan hewan sekitar 60 orang. Tim kesehatan hewan langsung turun ke lokasi-lokasi pemotongan dan penampungan hewan, seperti di Kuranji, Pauah, Koto Tangah dan Lubuak Kilangan.
Untuk Hari Raya Idul Adha sekarang, diperkirakan akan dilakukan pemotongan hewan kurban sebanyak 5.000 ekor. Tiap tahun di Padang selalu terjadi peningkatan pemotongan hewan kurban. Karenanya untuk pemenuhan kebutuhan, selain sapi dari Padang juga didatangkan sapi dari Pasisia Selatan.“Populasi sapi di Padang 25 ribu ekor atau setara dengan 400 kilogram. Sedangkan kebutuhan cukup tinggi, yaitu 600 kilogran per bulan. Untuk itu, kita mengambil sapi dari luar,” katanya.(a)
|