Pembunuh Berantai Diduga Tuntut Ilmu Hitam E-mail
Ditulis Oleh Redaksi   
Friday, 03 May 2013

PENCARIAN— Polisi bersama keluarga Nefrida Yanti dan warga mencari sisa tulang dan barang milik korban yang dibunuh Wisnu Sadewa, di lokasi ditemukannya tulang belulang di kawasan Lungguak Batu, Jorong Kotogadang, Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, kemarin.AGAM, METRO-Sopir hoyak angkutan desa (angdes) asal Jorong Dalam Koto, Nagari Pakansinayan, Kecamatan Banuhampu, kini menjadi sosok “bintang” yang menjadi perbincangan hangat di kampung dan juga di wilayah Agam dan Bukittingi. Tindakan sadis membunuh dua gadis muda yang masuk perangkapnya dari facebook itu, diketahui sudah memiliki tiga istri. Wisnu Sadewa (23) tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapat.

Dari kalangan orang yang sudah lama mengenal Wisnu, tidak banyak yang mengetahui secara pasti siapa nama aslinya. Warga di kampung Wisnu, lebih mengenal nama tersangka pembunuh Rusyada Nabila (16) dan Nefrida Yanti (23) tersebut, dengan sebutan brekele. Julukan itu didapat dari bentuk rambut Wisnu yang keriting dan gondrong itu.

Banyak warga yang tercengang ketika pertama kali nama Wisnu Sadewa disebut sebagai pembunuh berantai, dua gadis muda yang sudah menghilang beberapa bulan dari rumah orangtuanya.

 Selama ini, Wisnu terlihat lebih sering manghoyak (sopir dua-red), membawa angdes jurusan Bukittinggi-Kotogadang.

“Selama ini saya lebih sering jadi sopir hoyak, membawa angdes dari Kotogadang ke Bukittinggi,” kata Wisnu, Jumat (3/5).

Pria berpostur tubuh kurus ini juga mengaku, sudah mempunyai tiga istri yang dinikahinya di bawah tangan atau secara siri. Ketiga istrinya itu adalah wanita asal Sianok, Kecamatan IV Koto. Dari istri pertamanya itu, Wisnu memiliki satu orang anak. Lalu, ia menikahi wanita asal Pesisir Selatan (Pessel), dari wanita ini, ia kembali dianugerahi seorang anak.

“Mereka berdua sudah saya ceraikan hanya dengan selembar surat pak. Surat cerai itu hanya ditandatangani kami berdua. Sekarang kedua anak saya itu, diasuh ibunya,” ungkap Wisnu di Mapolres Bukittinggi.

Setelah bercerai, Wisnu langsung mencari isteri baru yang sudah dinikahinya semenjak setahun lalu. Lagi-lagi Wisnu pun nikah di bawah tangan, dengan wanita asal Palembayan, Agam. Sekarang, istri ketiganya itu sedang hamil tua.

“Istri saya segera melahirkan, dan butuh biaya untuk persalinan. Saya tak punya uang, karena itu saya merampok perhiasan mereka (Nabila dan Nefrida Yanti), untuk biaya persalinan,” tambah Wisnu yang mengalami luka tembak, ketika mencoba melarikan diri saat aparat kepolisian dan tersangka mencari lokasi kuburan Nabila di kawasan kaki Gunung Singgalang.

Sementara, menurut pengakuan warga yang mengenal Wisnu Sadewa, pria ini diketahui memiliki pembawaan dingin dan tak banyak bicara. Meski sering berpapasan dengan tetangganya, Wisnu jarang bicara apalagi hanya untuk sekadar menyapa.

“Melihat perawakan Wisnu, sering juga terdengar kalau dia itu memiliki ilmu hitam. Pasalnya, ketika Wisnu bekerja sebagai buruh di toko bangunan di daerah Pakansinayan, membongkar semen satu truk tronton, Wisnu tidak merasa lelah dan letih,” ungkap Bon, warga Sungaitanang, kepada POSMETRO.

Pencarian Tulang Korban

Kemarin siang, aparat Polres Bukittinggi, kembali melakukan pencarian sisa tulang dan kerangka tubuh korban, Nefrida Yanti. Pasalnya, pihak keluarga korban belum merasa puas, karena hanya menemukan sedikit tulang tubuh anak mereka.

Pencarian sekitar dua jam dilakukan polisi bersama warga, berhasil mengumpulkan serpihan tulang dalam ukuran kecil yang sudah tertimbun tanah. Selain itu, di lokasi juga ditemukan satu gelang karet milik Yanti—panggilan Nefrida Yanti. Padahal, menurut ibu korban, Nelda Lefina (44), putrinya itu memakai cincin emas serta membawa uang tunai sekitar Rp1,5 juta— gaji yang didapatnya sebagai karyawan di depot air minum di daerah maninjau.

“Kami yakin kalau tersangka ini memberi keterangan tidak benar. Selain anting emas, Yanti ketika pergi juga memakai cincin emas serta uang Rp1,5 juta. Tapi yang diakui oleh tersangka hanya Rp150 ribu,” kata Nelda yang terlihat sudah lebih tenang dan tabah menerima kenyataan jika putrinya dibunuh secara sadis oleh tersangka.

Waka Polres Bukittinggi, Kompol Arief Budiman menyebut, hingga kemarin, tersangka masih bersikukuh hanya membunuh dua korban Meski demikian, aparat masih terus mengembangkan kasus ini dan mencari bukti-bukti lain.

Hingga kemarin, polisi terus memeriksa pelaku, dan menjerat Wisnu dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana jo 338 KUHP tentang Pembunuhan jo Pasal 80 Undang-undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Pelaku bisa terkena ancaman hukuman 20 tahun penjara. (wan)

 

Comments  

 
-1 #1 bA Suveda bike 2013-05-07 09:58
HUKUMAN MATI PANTAS BUAT SETAN INI..KRN TERGOLONGPEMBUN UHAN BERENCANA...........
Quote
 

Add comment

Aturan Main:
Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh posmetropadang.com


Pasal Sanggahan (Disclaimer):
posmetropadang.com tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya posmetropadang.com berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca. Data dan/atau informasi yang tersedia di posmetropadang.com hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, posmetropadang.com dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan posmetropadang.com


Security code
Refresh

< Sebelumnya   Berikutnya >