Home arrow Berita Utama arrow Gadis 23 Tahun Dicekik Pakai Jilbab

Gadis 23 Tahun Dicekik Pakai Jilbab E-mail
Ditulis Oleh Redaksi   
Thursday, 02 May 2013

SATU KORBAN LAGI— Aparat kepolisian bersama masyarakat melakukan pencarian tulang belulang satu korban lagi, Nefrida Yanti, yang dibunuh Wisnu, Rabu (1/5) siang di Lungguak Batu, Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, Agam. (insert) Polisi memasang tanda beberapa titik, dimana bagian tubuh korban ditemukan.AGAM, METRO-Pelaku pembunuhan terhadap Rusyada Nabila (16), Wisnu Sadewa (32), diduga sebagai tersangka pembunuhan berantai atas sejumlah korban orang hilang di wilayah hukum Polres Bukittinggi. Hal itu terungkap setelah penyidik Polres Bukittinggi, memeriksa tersangka Wisnu sepanjang Rabu (1/5).

Dari nyanyiannya terungkap, tersangka tak hanya membunuh Nabila. Namun, ada korban lain yang dibunuh atas nama Nefrida Yanti (23), warga Jorong Balai Badak, Kenagarian Batukambiang, Kecamatan IV Nagari, Agam.

Pengakuan tersangka asal Dalamkoto, Kenagarian Pakansinayan, Kecamatan Banuhampu itu, membuat penyidik terkejut. Apalagi selama ini ada sekitar tujuh sampai delapan laporan masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya, dan masih gadis di wilayah hukum Polres Bukittinggi.

Tersangka Wisnu, kemarin dengan tenang menceritakan tentang pembunuhan yang dilakukannya terhadap korban, Nefrida Yanti. Polisi sebelumnya memang terus mengembangkan kasus, untuk mengungkap apakah ada korban lain yang dibunuh tersangka Wisnu. Polisi tidak percaya begitu saja, jika Wisnu hanya membunuh Nabila— pelajar Pondok Pesantren Diniyah V Jurai, Sungaipua, yang dibunuh Wisnu secara sadis dan dikubur di perladangan, di kaki Gunung Singgalang.

Dugaan polisi ternyata benar. Ketika penyidik mengecek semua daftar telepon masuk dan keluar yang dilakukan tersangka Wisnu, akhirnya diketahui, jika pria tersebut memang berhubungan (kontak) dengan Nefrida Yanti.

“Ya, saya juga membunuh wanita itu (Nefrida Yanti). Kejadiannya beberapa bulan lalu,” kata Wisnu kepada penyidik Polres Bukittinggi, kemarin.

Pengakuan Wisnu ternyata sama dengan laporan masyarakat yang masuk pada Minggu (3/2) pukul 07.00 WIB. Disebutkan, korban Nefrida meninggalkan rumahnya di Batukambing menuju Bukittinggi. “Saya membunuh korban di areal persawahan, Minggu (3/2) pukul 21.00 WIB,” kata  tersangka.

Menyamar di Facebook

Ternyata, cara membunuh yang dilakukan Wisnu terhadap Nefrida sama dengan Nabila. Tersangka mencekik leher korban dari belakang menggunakan jilbab korban.

Sesuai dengan pengakuan Wisnu, dia mengenal korban Nefrida Yanti melalui facebook. Selama satu bulan tersangka menjalin komunikasi dengan korban melalui jejaring sosial tersebut. Sama seperti Nabila, tersangka juga memakai nama samaran ketika berkenalan dengan korban.

Wisnu memakai nama Amel di facebook, sehingga korban percaya begitu saja. Setelah hampir satu bulan, akhirnya tersangka mengajak korban bertemu (kopi darat). Akhirnya, tersangka mengajak korban bertemu di Bukittinggi. Dari Lubukbasung, Yanti— panggilan korban, turun di simpang terminal Auakuning dan langsung dijemput tersangka pada Minggu sore. Selanjutnya, korban mengajak ke rumahnya untuk bertemu dengan Amel.

Tanpa rasa curiga, Yanti menurut ajakan Wisnu. Mereka memutuskan naik angkutan umum menuju Padangpanjang dan turun di simpang Padanglua. Ketika itu hari sudah malam. Melihat kondisi itu, tersangka mengajak Yanti naik ojek dengan cara bonceng tiga menuju daerah Kotogadang. Setelah sampai di tujuan sekitar pukul 21.00 WIB, tersangka menunjukkan kalau rumahnya ada di tengah sawah, berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya dan harus lewat pematang sawah.

“Saya menyuruh korban berjalan di depan, dengan alasan ada anjing galak di sebuah rumah warga. Sehingga korban percaya,” kata Wisnu.

Ketika tepat berada pada semak-semak, tersangka langsung mencekik leher korban. Dengan jilbab yang dipakai korban, tersangka terus mencengkram leher, sehingga korban tak bisa bergerak dan berteriak.

Setelah yakin, korban tidak bernyawa, tersangka langsung mengambil anting-anting korban yang diakuinya dijual Rp 400 ribu, serta HP milik korban dan uang sebesar Rp 150 ribu. Setelah berhasil mengambil barang berharga korban, tersangka meninggalkan Yanti dalam keadaan tidak bergerak dalam posisi telentang, dan dia terus pulang ke rumahnya orangtuanya di daerah Pakansinayan.

Penggalian Kuburan Dilakukan

Dengan melibatkan seluruh kesatuan Polres Bukittinggi dan Polsek IV Koto, Rabu siang, aparat mendatangi lokasi yang ditunjukkan tersangka, sebagai lokasi tempat korban dibunuh. Berjalan sekitar 200 meter dari jalan raya menuju Kotogadang dan melewati pematang sawah, akhirnya ditemukan sebuah semak yang ditunjukkan Wisnu.

Puluhan polisi langsung menyisir semak belukar di daerah Lungguak Batu, Jorong Kotogadang, Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto. Selang lima menit pencarian, polisi menemukan sebuah pakaian berwarna kuning. Ketika ditanya pada Wisnu, dia mengaku jika itu adalah pakaian korban.

Kemudian, dibantu lima warga setempat, polisi pun menemukan pakaian dalam Yanti, serta kerangka gigi. Berjarak sekitar dua meter dari tempat itu, masih di dalam semak, ditemukan tengkorak manusia.

“Setelah dilakukan pembersihan, kita kembali menemukan beberapa tulang Yanti termasuk celana dalam manusia. Ditemukan lagi sepasang sandal dan bros, semua berserakan di sekitar lokasi yang ditunjuk tersangka,” jelas Wakapolres Bukittinggi, Kompol Arief Budiman.

Pencarian terus dilakukan, namun polisi tak berhasil menemukan kerangka lainnya seperti kaki, tangan. Polisi hanya membawa beberapa tulang, termasuk tengkorak serta rambut korban ke RSAM Bukittinggi. Sementara Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan BPBD Agam dibantu warga setempat, Rabu siang terus membersihkan semak mencari beberapa tulang yang belum ditemukan.

Sementara, Wakapolres Bukittinggi, Kompol Arief Budiman mengungkapkan, diduga masih ada korban-korban lain yang dibunuh oleh tersangka. Pasalnya, banyak laporan masyarakat yang kehilangan anak-anak mereka, dan hingga kini tak ada kabar beritanya. “Tersangka terus kita periksa, dan kasus ini kita kembangkan, apakah masih ada korban lain yang dibunuh tersangka,” tegas Kompol Arief.

Kehilangan Kontak

Orang tua korban Yanti, Nelda Levina (44) yang ditemui di Mapolres Bukittinggi, terlihat sudah tabah dan mengikhlaskan kepergian anak pertamanya itu. Kata ibu korban, sehari sebelum pergi meninggalkan rumah, putrinya itu sudah pamit dan menyebut akan pergi ke Bukittinggi.

“Ketika itu anak saya menyebut akan segera pulang pada hari itu juga,” kata Nelda.

Saat putrinya hingga Minggu malam, tak kunjung pulang, barulah ia cemas. Bahkan, dia kehilangan kontak dengan putrinya itu. “Sampai Minggu malam itu, hanya ada satu SMS masuk memakai nomor putri saya, dan disebutkan untuk bertemu pada suatu tempat seperti di Kelok 44 dan Matur. Tapi setelah diikuti, ternyata yang bersangkutan tidak pernah ada,” jelas ibu tiga anak ini yang berharap aparat kepolisian bisa memberikan tulang atau tengkorak putrinya untuk dikuburkan secara layak di kampung, di daerah Batukambing, Lubukbasung.

Awasi Anak Remaja Anda

Terpisah, Psikolog, Kuswardani berpendapat, pelaku sebaiknya diperiksa dulu secara intensif sekaligus memeriksa kejiwaannya. “Motif yang dilakukan pelaku harus ditelusuri,” sebut Kuswardani.

Kuswardani lebih menyoroti psikologis para remaja yang menjadi user media sosial dan pengontrolan yang semestinya dilakukan oleh orangtua. “Jangan lagi membiarkan seorang anak yang sudah beranjak remaja, kebablasan dalam menggunakan media sosial. Apa yang sudah terjadi menjadi pelajaran berharga,” terangnya.

Dikatakan, orang tua mesti tanggap. “Bila perlu, mengetahui identitas media sosial anak berikut password-nya. Agar selalu bisa melakukan kontrol,” tegas Kuswardani. (wan/ben)

 

Comments  

 
+1 #1 Burnalis Burhan 2013-05-03 12:51
Nauzhu billahi min zalik,,mudah2an anak-anakku terhindar dari hal yang demikian, termasuk juga anak-anak kta semua amin ya Allah, lindungilah mereka...
Quote
 

Add comment

Aturan Main:
Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh posmetropadang.com


Pasal Sanggahan (Disclaimer):
posmetropadang.com tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya posmetropadang.com berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca. Data dan/atau informasi yang tersedia di posmetropadang.com hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, posmetropadang.com dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan posmetropadang.com


Security code
Refresh

< Sebelumnya   Berikutnya >
Komentar